السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Mempersiapkan pemimpin pendidikan Islam yang mampu beradaptasi dengan transformasi digital menjadi komitmen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pelatihan AI for Islamic Leader bertema "Membangun Kepemimpinan yang Adaptif, Inovatif, dan Beretika di Era Artificial Intelligence" yang berlangsung pada 30–31 Juli 2026 di Ruang Internasional 3 Gedung Kuliah Terpadu STAIN SAR Kepri. Pelatihan ini diikuti oleh mahasiswa MPI dari berbagai semester sebagai bekal menghadapi tantangan kepemimpinan di era digital.
Pelatihan
menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidang transformasi
digital dan teknologi pendidikan, yakni Dwi Afriani, S.Si., M.Sc., dari Balai
Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kepulauan Riau, serta Ferdi
Charyadi, S.Kom., M.Sc., akademisi yang memiliki kepakaran di bidang teknologi
informasi dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Ketua
Program Studi MPI STAIN SAR Kepri, Megawati, M.M., dalam sambutannya menegaskan
bahwa penguasaan teknologi mutakhir, khususnya Artificial Intelligence,
menjadi kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam
sebagai calon pemimpin di masa depan.
"Mahasiswa
MPI dipersiapkan menjadi pemimpin di berbagai lembaga pendidikan dan
masyarakat. Karena itu, kita tidak boleh tertinggal dalam perkembangan
teknologi. Jadikan pelatihan ini sebagai momentum untuk meningkatkan
kompetensi, bukan sekadar hadir sebagai peserta. Bekal ini akan sangat
bermanfaat ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat,"
ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan narasumber yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut sehingga dapat berjalan dengan baik.


Pelatihan
secara resmi dibuka oleh Plt. Wakil Ketua I STAIN SAR Kepri, Dr. Fadhila
Yonata, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Artificial Intelligence
merupakan teknologi yang perlu dimanfaatkan secara bijaksana dan bertanggung
jawab oleh mahasiswa, khususnya sebagai calon pemimpin pendidikan Islam.
Menurutnya,
AI mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi berbagai pekerjaan akademik.
Namun demikian, penggunaannya tidak boleh menghilangkan kemampuan berpikir
kritis maupun nilai-nilai etika akademik.
"Artificial
Intelligence harus menjadi alat bantu yang memperkuat kualitas pekerjaan,
bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia. Sebagai calon Islamic leader,
mahasiswa perlu memahami bahwa penggunaan AI harus disertai etika, tanggung
jawab moral, serta integritas akademik," tegasnya.
Pada
sesi pertama, Dwi Afriani, S.Si., M.Sc. memaparkan materi mengenai penguatan
berpikir komputasional (computational thinking) sebagai fondasi
pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam dunia pendidikan. Ia menjelaskan bahwa
transformasi digital menjadi salah satu agenda strategis pembangunan pendidikan
nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang adaptif terhadap
perkembangan teknologi.
Dalam
paparannya, ia menguraikan berbagai tantangan pendidikan Indonesia, di
antaranya penurunan capaian Programme for International Student Assessment (PISA),
kesenjangan akses teknologi, rendahnya daya saing sumber daya manusia, serta
tuntutan percepatan transformasi digital di sektor pendidikan.
Ia juga menjelaskan arah kebijakan dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional yang menekankan pengembangan inovasi pembelajaran berbasis teknologi digital, penguatan pedagogi modern, peningkatan kualitas asesmen, penguatan pendidikan agama, hingga pengembangan sumber daya manusia pendidikan yang kompetitif.


Lebih
lanjut, peserta diperkenalkan pada konsep pemanfaatan Artificial
Intelligence dalam pembelajaran melalui enam aspek utama, yaitu penguatan
berpikir komputasional, penyusunan modul ajar, pengembangan media pembelajaran
inovatif, penyusunan asesmen berbasis AI, etika penggunaan kecerdasan
artifisial, serta diferensiasi pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
Sementara
itu, pada sesi berikutnya, Ferdi Charyadi, S.Kom., M.Sc. memberikan pelatihan
praktis mengenai pemanfaatan berbagai platform Artificial Intelligence untuk
mendukung efektivitas kepemimpinan, manajemen pendidikan, penyusunan dokumen
akademik, hingga optimalisasi produktivitas kerja berbasis teknologi.
Melalui
pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai Artificial
Intelligence, tetapi juga dibekali keterampilan praktis dalam memanfaatkan
teknologi secara efektif, produktif, dan bertanggung jawab sesuai dengan
nilai-nilai kepemimpinan Islam.
Kegiatan
ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi MPI STAIN Sultan Abdurrahman
Kepulauan Riau dalam menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap transformasi
digital, memiliki literasi teknologi yang kuat, serta mampu menjadi Islamic
leader yang inovatif, berintegritas, dan berdaya saing di tingkat nasional
maupun global. (LF)