السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tanjak Melayu Jadi Simbol Kehormatan, STAIN SAR Kepri Sambut Asesor LAM Kependidikan dalam AL Prodi TBI

  • 07 Juli 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 64
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Nuansa budaya Melayu mewarnai pembukaan Asesmen Lapangan (AL) Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau yang berlangsung di Beranda Gedung Kuliah Terpadu STAIN SAR Kepri pada Selasa (7/7/2026). Momentum tersebut ditandai dengan prosesi penyematan Tanjak Melayu Kepulauan Riau dan kain songket kepada tim asesor sebagai simbol penghormatan sekaligus peneguhan identitas budaya Melayu dalam lingkungan akademik.

Prosesi penyematan dilakukan langsung oleh Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., kepada asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAM Kependidikan), yaitu Prof. Dr. Phil. Saiful Akmal, S.Pd., M.A. dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang menerima Tanjak Melayu, serta Dr. Masitowarni Siregar, M.Ed. dari Universitas Negeri Medan yang disematkan kain songket Melayu.

Prosesi tersebut menjadi bagian dari penyambutan resmi kampus kepada tim asesor yang melaksanakan asesmen lapangan sebagai rangkaian proses akreditasi Program Studi Tadris Bahasa Inggris.

Tanjak Kepulauan Riau merupakan penutup kepala khas masyarakat Melayu yang sarat akan makna filosofis. Bentuknya yang menjulang ke atas melambangkan kehormatan, kewibawaan, martabat, dan jati diri masyarakat Melayu. Dalam tradisi Melayu, penggunaan tanjak tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap busana adat, tetapi juga mencerminkan adab, tanggung jawab, serta penghormatan kepada tamu yang dimuliakan.

Sementara itu, kain songket Melayu yang turut disematkan kepada asesor perempuan menjadi simbol kemuliaan, keanggunan, dan penghargaan yang telah lama menjadi bagian dari khazanah budaya masyarakat Kepulauan Riau.

Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., menyampaikan bahwa prosesi penyematan tanjak dan songket merupakan wujud penghormatan kampus kepada tim asesor sekaligus komitmen institusi dalam melestarikan nilai-nilai budaya Melayu di tengah dinamika kehidupan akademik.


"Penyematan tanjak dan songket ini bukan sekadar seremoni penyambutan, tetapi menjadi simbol penghormatan kepada tamu sekaligus penegasan identitas budaya Melayu yang senantiasa kami junjung tinggi di STAIN Sultan Abdurrahman. Kami meyakini bahwa penguatan mutu akademik harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai budaya lokal sebagai karakter institusi," ujarnya.

Menurutnya, sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yang berada di Bumi Melayu, STAIN SAR Kepri terus berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, akademik, dan budaya lokal dalam berbagai aktivitas kelembagaan, termasuk pada pelaksanaan agenda-agenda strategis seperti asesmen lapangan program studi.

Momen penyematan tanjak dan songket tersebut menjadi simbol harmonisasi antara tradisi dan akademik yang menjadi ciri khas STAIN SAR Kepri. Kehadiran budaya Melayu dalam setiap penyelenggaraan kegiatan institusi diharapkan tidak hanya memperkuat identitas kampus, tetapi juga menjadi media memperkenalkan kekayaan budaya Kepulauan Riau kepada para tamu dari berbagai daerah.

Melalui prosesi tersebut, STAIN SAR Kepri kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan mutu akademik, tetapi juga konsisten menjaga, merawat, dan mengembangkan nilai-nilai budaya Melayu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan karakter akademik dan kelembagaan. (LF/Gby)