السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Nuansa budaya Melayu mewarnai pembukaan Asesmen Lapangan (AL) Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau yang berlangsung di Beranda Gedung Kuliah Terpadu STAIN SAR Kepri pada Selasa (7/7/2026). Momentum tersebut ditandai dengan prosesi penyematan Tanjak Melayu Kepulauan Riau dan kain songket kepada tim asesor sebagai simbol penghormatan sekaligus peneguhan identitas budaya Melayu dalam lingkungan akademik.
Prosesi
penyematan dilakukan langsung oleh Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad
Faisal, M.Ag., kepada asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAM
Kependidikan), yaitu Prof. Dr. Phil. Saiful Akmal, S.Pd., M.A. dari UIN
Ar-Raniry Banda Aceh yang menerima Tanjak Melayu, serta Dr. Masitowarni
Siregar, M.Ed. dari Universitas Negeri Medan yang disematkan kain songket
Melayu.
Prosesi
tersebut menjadi bagian dari penyambutan resmi kampus kepada tim asesor yang
melaksanakan asesmen lapangan sebagai rangkaian proses akreditasi Program Studi
Tadris Bahasa Inggris.
Tanjak
Kepulauan Riau merupakan penutup kepala khas masyarakat Melayu yang sarat akan
makna filosofis. Bentuknya yang menjulang ke atas melambangkan kehormatan,
kewibawaan, martabat, dan jati diri masyarakat Melayu. Dalam tradisi Melayu,
penggunaan tanjak tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap busana adat, tetapi
juga mencerminkan adab, tanggung jawab, serta penghormatan kepada tamu yang
dimuliakan.
Sementara
itu, kain songket Melayu yang turut disematkan kepada asesor perempuan menjadi
simbol kemuliaan, keanggunan, dan penghargaan yang telah lama menjadi bagian
dari khazanah budaya masyarakat Kepulauan Riau.
Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., menyampaikan bahwa prosesi penyematan tanjak dan songket merupakan wujud penghormatan kampus kepada tim asesor sekaligus komitmen institusi dalam melestarikan nilai-nilai budaya Melayu di tengah dinamika kehidupan akademik.

"Penyematan
tanjak dan songket ini bukan sekadar seremoni penyambutan, tetapi menjadi
simbol penghormatan kepada tamu sekaligus penegasan identitas budaya Melayu
yang senantiasa kami junjung tinggi di STAIN Sultan Abdurrahman. Kami meyakini
bahwa penguatan mutu akademik harus berjalan beriringan dengan pelestarian
nilai-nilai budaya lokal sebagai karakter institusi," ujarnya.
Menurutnya,
sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yang berada di Bumi Melayu,
STAIN SAR Kepri terus berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai keislaman,
akademik, dan budaya lokal dalam berbagai aktivitas kelembagaan, termasuk pada
pelaksanaan agenda-agenda strategis seperti asesmen lapangan program studi.
Momen
penyematan tanjak dan songket tersebut menjadi simbol harmonisasi antara
tradisi dan akademik yang menjadi ciri khas STAIN SAR Kepri. Kehadiran budaya
Melayu dalam setiap penyelenggaraan kegiatan institusi diharapkan tidak hanya
memperkuat identitas kampus, tetapi juga menjadi media memperkenalkan kekayaan
budaya Kepulauan Riau kepada para tamu dari berbagai daerah.
Melalui
prosesi tersebut, STAIN SAR Kepri kembali menegaskan komitmennya sebagai
perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan mutu akademik,
tetapi juga konsisten menjaga, merawat, dan mengembangkan nilai-nilai budaya
Melayu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan karakter akademik
dan kelembagaan. (LF/Gby)
Asesor LAM Kependidikan: AL Jadi Momentum Penguatan Mutu Berkelanjutan Prodi TBI STAIN SAR Kepri