السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Prestasi Membanggakan! Artikel Kolaborasi Dosen STAIN SAR Kepri Tembus Scopus Q1, Angkat Kearifan Adat Melayu ke Panggung Akademik Global

  • 14 September 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 164
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Prestasi akademik kembali ditorehkan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau melalui publikasi artikel ilmiah pada jurnal bereputasi internasional yang terindeks Scopus Q1. Artikel berjudul “Negotiated Legal Pluralism in Adat-Based Family Dispute Resolution: Islamic Law, Malay Custom, and Family Resilience in Lingga Regency” tersebut diterbitkan dalam Journal of Islamic Law, Volume 7, Nomor 2 Tahun 2026.

Artikel tersebut merupakan karya kolaboratif Maulana Yusuf dari UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Dr. Asrizal, M.H. dari STAIN SAR Kepri, Sayuti dari UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Saadan Man dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, serta Fharkhan Luthfi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Publikasi ini sekaligus memperlihatkan kontribusi dosen STAIN SAR Kepri dalam pengembangan kajian hukum Islam dan hukum keluarga melalui riset yang mengangkat realitas sosial dan kearifan lokal masyarakat Melayu di Kepulauan Riau.

Penelitian tersebut mengkaji mekanisme penyelesaian sengketa keluarga berbasis adat dalam masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga dengan melihat interaksi antara hukum Islam, adat Melayu, dan otoritas komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif sosio-legal yang dilaksanakan pada April hingga September 2025 di lima desa di Kabupaten Lingga dengan melibatkan 20 informan yang dipilih secara purposif.

Data penelitian diperoleh melalui wawancara semiterstruktur, observasi nonpartisipatif, dan analisis dokumen. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan perspektif pluralisme hukum dan integrasi sosial untuk memahami bagaimana berbagai norma dan otoritas bekerja dalam penyelesaian sengketa keluarga di tengah masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa keluarga dalam masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga berlangsung melalui mekanisme berlapis. Proses tersebut mencakup mediasi di tingkat keluarga, mediasi adat, mediasi keagamaan, hingga mediasi kelembagaan yang melibatkan Lembaga Adat Melayu (LAM).


Temuan tersebut memperlihatkan bahwa hukum Islam dan adat Melayu tidak berjalan sebagai dua sistem yang terpisah ataupun saling berkompetisi. Norma-norma Islam justru ditafsirkan, diterjemahkan, dan dinegosiasikan melalui praktik adat yang memiliki legitimasi kultural di tengah masyarakat. Pola tersebut kemudian dikaji sebagai bentuk negotiated legal pluralism atau pluralisme hukum yang dinegosiasikan.

Dalam mekanisme tersebut, otoritas adat dan keagamaan menjalankan peran yang saling melengkapi dalam menyelesaikan persoalan keluarga. Pendekatan musyawarah dan mufakat menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian, dengan orientasi tidak semata-mata menyelesaikan konflik, tetapi juga memulihkan hubungan antaranggota keluarga.

Penelitian juga menemukan bahwa mediasi berbasis adat dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan ketahanan keluarga melalui pemulihan relasi, peningkatan tanggung jawab, tumbuhnya kembali kepercayaan, serta penguatan kohesi sosial. Meskipun demikian, kontribusi tersebut tetap bersifat kondisional dan perlu disertai perlindungan terhadap hak-hak anggota keluarga serta akses yang berkelanjutan terhadap institusi hukum negara.

Dr. Asrizal, M.H., yang juga merupakan Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) STAIN SAR Kepri, menyampaikan rasa syukur atas terbitnya artikel tersebut di jurnal bereputasi internasional.


Alhamdulillah, artikel kami berjudul Negotiated Legal Pluralism in Adat-Based Family Dispute Resolution: Islamic Law, Malay Custom, and Family Resilience in Lingga Regency telah terbit pada Journal of Islamic Law (Scopus Q1). Semoga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian hukum Islam dan hukum keluarga di Indonesia,” ujarnya, Senin (14/9/2026).

Menurut Dr. Asrizal, publikasi tersebut tidak hanya menjadi capaian akademik bagi para penulis, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan dinamika hukum Islam dan praktik adat Melayu di Kepulauan Riau dalam diskursus akademik yang lebih luas. Kajian mengenai masyarakat Melayu di Lingga menunjukkan bahwa hukum dapat berinteraksi secara dinamis dengan nilai agama, tradisi, dan struktur sosial yang berkembang di masyarakat.

Publikasi pada jurnal terindeks Scopus Q1 tersebut turut memperkuat posisi STAIN SAR Kepri dalam pengembangan budaya akademik berbasis penelitian. Kolaborasi lintas perguruan tinggi dan negara yang terlibat dalam penelitian juga menunjukkan pentingnya jejaring akademik dalam menghasilkan kajian yang kontekstual sekaligus memiliki relevansi pada tingkat internasional.

Capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi civitas academica STAIN SAR Kepri untuk terus meningkatkan kualitas penelitian, memperluas kolaborasi akademik, serta menghasilkan publikasi ilmiah yang mampu mengangkat kekayaan intelektual, sosial, keagamaan, dan budaya Kepulauan Riau ke dalam percakapan akademik nasional maupun internasional. (LF/Gby)