السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sebagai bagian dari upaya penguatan identitas budaya dan pembentukan karakter mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau menyelenggarakan hari kedua Workshop Pantun bertema “Menghidupkan Budaya, Menguatkan Identitas: Pantun sebagai Akar Identitas Mahasiswa PAI” di Ruang Rapat Dosen pada Kamis (4/6/2026).
Kegiatan
ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif dalam memperkuat pemahaman
budaya, merevitalisasi nilai-nilai kemelayuan, serta memperkenalkan pendekatan
inovatif berbasis teknologi sebagai upaya menjaga keberlanjutan tradisi pantun
di tengah dinamika transformasi era digital.
Workshop
diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) serta
mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan STAIN SAR Kepri. Melalui
kegiatan tersebut, peserta diajak memahami pantun tidak hanya sebagai karya
sastra lisan, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan karakter, media
komunikasi budaya, serta representasi identitas masyarakat Melayu yang sarat
dengan nilai etika, kesantunan, dan kebijaksanaan.
Pada
hari kedua pelaksanaan workshop, hadir sebagai narasumber M. Khairil Ramadhan,
mahasiswa semester VIII Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN SAR Kepri
yang dikenal aktif sebagai penyiar RRI PRO 4 Tanjungpinang bidang kebudayaan,
pemantun adat, penulis, serta pegiat pelestarian budaya Melayu.
Dalam perjalanan akademik dan organisasinya, Khairil memiliki rekam jejak yang kuat dalam bidang kepemimpinan dan kebudayaan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum HMPS PAI, Ketua Umum Dewan Eksekutif Mahasiswa STAIN SAR Kepri, serta dipercaya sebagai Koordinator Daerah Kepulauan Riau BEM Seluruh Indonesia. Selain itu, ia juga aktif sebagai Duta Pantun Kepulauan Riau dan telah menerbitkan karya berjudul Kepulauan Riau Dalam Pantun (2023) serta Juz Amma dalam Pantun (2024).

Dalam
pemaparannya, Khairil mengangkat tema mengenai seni berpantun spontan sebagai
salah satu tradisi budaya Melayu yang tetap relevan di tengah perkembangan
zaman. Ia menjelaskan bahwa pantun spontan merupakan kemampuan merangkai bait
secara langsung tanpa persiapan tertulis, yang selama ini berkembang sebagai
media komunikasi sosial, hiburan, pendidikan, serta penyampaian pesan moral di
masyarakat.
Menurutnya,
kemampuan berpantun tidak hanya mengandalkan spontanitas, tetapi juga
membutuhkan penguasaan terhadap struktur dasar pantun. Pantun yang baik harus
memenuhi kaidah empat baris, memiliki pola rima a-b-a-b, memuat dua baris
sampiran dan dua baris isi, serta memperhatikan keseimbangan jumlah suku kata
agar menghasilkan ritme yang indah dan bermakna.
Ia
juga menekankan bahwa seni berpantun melatih kecepatan berpikir, kreativitas,
keluwesan berbahasa, serta kemampuan menyusun gagasan secara sistematis. Oleh
karena itu, keterampilan tersebut perlu diasah secara berkelanjutan melalui
latihan dan pembiasaan.
“Pantun
bukan hanya soal merangkai kata yang indah, tetapi juga kemampuan menyampaikan
pesan dengan santun, cerdas, dan penuh makna. Di era digital saat ini, tradisi
berpantun justru memiliki peluang lebih besar untuk berkembang melalui media
sosial dan berbagai platform kreatif yang dekat dengan generasi muda,” jelas
Khairil.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang turut mencoba praktik berpantun spontan dan mengeksplorasi bagaimana budaya lisan dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan nilai autentiknya.

Ketua
Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN SAR Kepri, Dr. Nahrim Ajmain, M.A,
dalam keterangannya menyampaikan bahwa pelestarian budaya harus menjadi bagian
dari proses pendidikan di perguruan tinggi.
Menurutnya,
pantun bukan sekadar warisan sastra, melainkan media pembentukan karakter yang
mengandung nilai etika, kecerdasan berbahasa, dan kearifan lokal yang perlu
terus diwariskan kepada generasi muda.
“Mahasiswa
perlu memahami bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi fondasi
identitas yang harus dijaga dan dikembangkan. Melalui pendekatan yang relevan
dengan perkembangan teknologi, tradisi seperti pantun dapat terus hidup dan
menjadi bagian dari ekspresi intelektual generasi masa kini,” ungkapnya.
Melalui
kegiatan ini, HMPS PAI STAIN SAR Kepri kembali menunjukkan komitmennya dalam
menghadirkan program kemahasiswaan yang tidak hanya berorientasi pada penguatan
akademik, tetapi juga pengembangan karakter, pelestarian budaya, serta
penguatan nilai keislaman dan kemelayuan sebagai identitas institusi. (LF/Khairul)
Pantun sebagai Akar Identitas, HMPS PAI STAIN SAR Kepri Dorong Pelestarian Budaya Berbasis Teknologi
STAIN Kepri Siap Laksanakan SSE UM-PTKIN 2026, Peserta Diminta Perhatikan Ketentuan Ujian
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN