السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Perkuat Kapasitas Calon Guru Profesional, STAIN SAR Kepri Hadirkan Seminar Pendidikan Berbasis Kompetensi

  • 04 Juni 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 123
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mencetak calon pendidik yang kompeten dan profesional, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau melalui Laboratorium Microteaching menyelenggarakan Seminar Pendidikan bertema “Meningkatkan Keterampilan Dasar Mengajar dan Public Speaking bagi Calon Tenaga Pendidik Profesional” yang berlangsung di Auditorium Razali Jaya pada Kamis (4/6/2026).

Kegiatan ini menjadi wadah penguatan kapasitas mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi pedagogik, keterampilan komunikasi edukatif, serta kesiapan menghadapi dinamika dunia pendidikan yang semakin adaptif dan kompetitif.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Laboratorium Microteaching Dwi Setyaningsih, M.M., para Ketua Program Studi di lingkungan rumpun kependidikan, di antaranya Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Tadris Bahasa Inggris (TBI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), serta diikuti mahasiswa dari berbagai program studi sebagai peserta.

Seminar dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua II STAIN SAR Kepri, Dr. Almahfuz, M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa menjadi pendidik profesional tidak cukup hanya menguasai materi ajar, tetapi juga harus dibangun melalui penguatan kompetensi secara utuh yang meliputi aspek pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial.

Menurutnya, kompetensi pedagogik menjadi fondasi penting bagi seorang guru dalam memahami karakteristik peserta didik, merancang pembelajaran, memilih metode dan media yang tepat, serta menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Selain itu, kompetensi profesional menuntut calon guru untuk terus memperbarui wawasan keilmuan dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman dan teknologi.

“Menjadi guru pada era saat ini tidak lagi terbatas pada kemampuan mengajar di kelas. Guru harus mampu terus belajar, memanfaatkan teknologi secara produktif, membangun karakter yang baik, serta menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sosial dan profesional,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dan penguasaan teknik berbicara di depan umum sebagai bagian dari identitas seorang pendidik.

Menurutnya, pengaturan intonasi suara, tempo berbicara, artikulasi, ekspresi, serta kemampuan membangun perhatian audiens merupakan elemen penting agar pesan pembelajaran dapat diterima secara optimal oleh peserta didik.

“Guru bukan sekadar berbicara, tetapi harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang membuat siswa memahami, tertarik, dan termotivasi,” tambahnya.

Pada sesi utama, seminar menghadirkan narasumber Annisa Musyarofah, M.Pd. yang menyampaikan materi bertajuk Guru Inspiratif: Menguasai Kompetensi dan Seni Berbicara di Kelas.

Dalam pemaparannya, Annisa menjelaskan bahwa guru merupakan arsitek masa depan yang memiliki peran strategis dalam membentuk generasi melalui proses pembelajaran yang inspiratif dan bermakna.


Ia menegaskan bahwa profesionalisme guru dibangun melalui integrasi antara penguasaan kompetensi dasar dan kemampuan public speaking yang efektif.

Narasumber menjelaskan bahwa terdapat empat kompetensi utama yang harus dimiliki guru, yakni kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial, yang kemudian diwujudkan melalui penguasaan delapan keterampilan dasar mengajar.

Keterampilan tersebut meliputi kemampuan membuka pembelajaran secara menarik, menjelaskan materi secara sistematis, mengajukan pertanyaan yang mendorong berpikir kritis, memberikan penguatan kepada siswa, menciptakan variasi pembelajaran, mengelola kelas, membimbing diskusi, hingga menutup pembelajaran secara reflektif.

Selain kompetensi instruksional, Annisa menyoroti pentingnya seni public speaking dalam membangun koneksi emosional antara guru dan peserta didik.

Menurutnya, pembelajaran akan lebih efektif apabila guru mampu mengubah materi yang kompleks menjadi pengalaman belajar yang dekat dengan realitas siswa melalui pendekatan storytelling, visualisasi, humor edukatif, dan komunikasi yang empatik.


“Guru yang inspiratif bukan hanya menguasai materi, tetapi mampu menghadirkan suasana belajar yang hidup, memberi ruang tumbuh bagi siswa, dan membangun rasa percaya diri mereka untuk berkembang,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tantangan pembelajaran di era modern menuntut guru memiliki kemampuan adaptasi, manajemen kelas yang baik, serta kesiapan melakukan refleksi dan evaluasi diri secara berkelanjutan.

Seminar berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang menunjukkan tingginya antusiasme mahasiswa terhadap pengembangan keterampilan mengajar dan komunikasi profesional.

Melalui kegiatan ini, STAIN SAR Kepri berharap mahasiswa tidak hanya siap menjadi pendidik yang kompeten secara akademik, tetapi juga mampu tampil sebagai figur inspiratif yang adaptif, komunikatif, dan berdaya saing dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan masa depan. (LF)