السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pusat Moderasi Beragama STAIN Sultan Abdurrahman Kepri Ikuti Seminar Nasional “Moderasi Beragama Dalam Terang Injil” Secara Virtual

  • 03 Februari 2021
  • Oleh:
  • 959
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu, Berteraskan Ilmu ­–  Tim Pusat Moderasi Beragama STAIN Sultan Abdurrahman Kepri, Abdul Malik Al Munir (Kepala) dan Asrizal, M.H (sekretaris) mengikuti Seminar Nasional yang diadakan oleh  PGGP (Persekutuan Gereja-gereja setanah Papua) bekerjasama dengan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Provinsi Papua.

Seminar Nasional yang diadakan secara virtual tersebut dalam rangka memperingati Hari Pekabaran Injil  ke-166 tahun di Tanah Papua. Seminar dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, salah satunya K.H. Miftachul Akhyar (sebagai Ketua MUI Pusat). Seminar di buka langsung oleh Menteri Agama, H. Yaqut Cholil Qoumas.

Dalam seminar tersebut, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si (Dirjen Bimas Kristen) Kementerian Agama, dalam pemamparannya menyampaikan bahwa dalam pandangan pemuka kristiani, khususnya di Tanah Papua, moderasi beragama bagi mereka adalah menjunjung tinggi keyakinan.

“Ajaran otentik agama-agama mengundang kita untuk tetap berakar pada nilai-nilai perdamaian, untuk mempertahankan nilai-nilai saling pengertian, persaudaraan insani dan koeksistensi yang harmonis untuk menegakkan kembali hikmat keadilan, dan cinta, serta untuk membangkitkan kembali kesadaran beragama.” Ujarnya.

Dr. Sientje Loupatty selaku penanggap dalam Seminar tersebut mengatakan bahwa dalam beragama jangan sampai ada paham kanan dan paham kiri, artinya jangan hanya memahami teks, tapi tidak mau memahami konteks, ada juga yangg melihat konteks yang terjadi, tapi tidak mengacu kepada teks.

Beliau menambahkan bahwa, moderasi adalah pertengahan, lawan moderasi ada ekstrimis, artinya jadilah umat yang tidak mempertahankan kebenaran atas pemahaman dia sendiri (claim kebenaran), tapi lebih kepada pemahaman yang disepakati dan mengarah kepada keadilan. Itulah sebabnya di Papua sering terjadi perselisihan atas nama agama. (Asrizal/Luluk)