السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sebagai bagian dari upaya penguatan identitas budaya dan pembentukan karakter mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau menyelenggarakan Workshop Pantun bertema “Menghidupkan Budaya, Menguatkan Identitas: Pantun sebagai Akar Identitas Mahasiswa PAI” di Auditorium Razali Jaya pada Rabu (3/6/2026).
Kegiatan
ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif dalam memperkuat literasi
budaya, merevitalisasi nilai-nilai kemelayuan, serta memperkenalkan pendekatan
inovatif berbasis teknologi sebagai upaya menjaga keberlanjutan tradisi pantun
di tengah dinamika transformasi era digital.
Workshop
diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) serta
mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan STAIN SAR Kepri. Melalui
kegiatan ini, peserta diajak memahami pantun tidak hanya sebagai karya sastra
lisan, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan karakter, media komunikasi
budaya, serta representasi identitas masyarakat Melayu yang sarat dengan nilai
etika, kesantunan, dan kebijaksanaan.
Hadir
sebagai narasumber, Kepala Unit Studi Pantun dan Khazanah Melayu STAIN SAR
Kepri, Ramli Muasmara, M.Pd.I., yang menyampaikan materi mengenai landasan
filosofis, struktur, fungsi, dan perkembangan pantun dalam konteks masyarakat
kontemporer. Materi yang disampaikan juga mengajak peserta merefleksikan
relevansi pantun sebagai media ekspresi dan pembelajaran yang tetap adaptif di
tengah perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta tantangan pelestarian
budaya di era modern.
Dalam pemaparannya, Ramli menjelaskan bahwa pantun bukan sekadar karya sastra berima, melainkan bagian dari sistem nilai yang hidup di tengah masyarakat Melayu. Pantun hadir sebagai media komunikasi yang mengandung pesan moral, pendidikan karakter, etika sosial, hingga menjadi sarana dakwah dan penguatan relasi sosial yang harmonis.

Menurutnya,
secara filosofis pantun mengandung nilai sopan santun dan keteraturan dalam
menyampaikan gagasan. Oleh karena itu, keberadaan pantun tidak hanya dipahami
sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan cara berpikir
dan bersikap dalam kehidupan bermasyarakat.
Peserta
juga memperoleh pemahaman mengenai struktur dasar pantun yang terdiri atas
empat baris dengan pola sampiran dan isi serta sajak A-B-A-B. Selain itu,
dijelaskan pula kaidah penulisan pantun yang ideal, mulai dari jumlah suku
kata, pemilihan diksi, hingga penggunaan simbol-simbol alam dan identitas lokal
yang memperkaya makna dalam setiap bait.
Tidak
hanya membahas pantun sebagai warisan sastra lisan, kegiatan ini turut
memperkenalkan konsep Pantunesia, sebuah inovasi digital yang dirancang
untuk mendekatkan tradisi berpantun kepada generasi muda melalui pendekatan
teknologi.
“Melalui
konsep tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada pemanfaatan platform digital
sebagai media pembelajaran interaktif yang memungkinkan pengguna memahami
struktur pantun, mengenal ragam jenis pantun, serta mempraktikkan penulisan
pantun sesuai kaidah sastra Melayu,” ujar Ramli.
Diskusi
yang berlangsung secara interaktif menunjukkan antusiasme peserta dalam
mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat berperan sebagai instrumen pelestarian
budaya tanpa menghilangkan nilai autentik yang melekat pada tradisi tersebut.
Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN SAR Kepri, Dr. Nahrim Ajmain, M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilepaskan dari peran generasi muda dan institusi pendidikan tinggi.

Menurutnya,
pantun merupakan bagian penting dari identitas intelektual dan peradaban
masyarakat Melayu yang perlu terus dihidupkan melalui pendekatan pembelajaran
yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Pantun
bukan hanya karya sastra tradisional, tetapi juga media pendidikan karakter
yang mengajarkan etika, kesantunan, dan kebijaksanaan. Perguruan tinggi
memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang pembelajaran yang mampu
menghubungkan tradisi dengan inovasi agar budaya tetap hidup dan berkembang di
tengah transformasi digital,” ungkapnya.
Ia
menambahkan bahwa kegiatan semacam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat
literasi budaya sekaligus membangun kesadaran mahasiswa agar tidak tercerabut
dari akar identitas lokal di era global.
Melalui workshop ini, HMPS PAI STAIN SAR Kepri kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kegiatan kemahasiswaan yang tidak hanya berorientasi pada penguatan akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, pelestarian budaya, serta penguatan nilai keislaman dan kemelayuan sebagai identitas kampus. (LF/Khairul)
STAIN Sultan Abdurrahman Kepri Matangkan Persiapan Praktik Perkuliahan Lapangan Tahun 2026
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN