السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Lestarikan Budaya melalui Penguatan Tradisi Pantun, HMPS PAI STAIN SAR Kepri Gelar Workshop Berbasis Inovasi Digital

  • 03 Juni 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 77
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sebagai bagian dari upaya penguatan identitas budaya dan pembentukan karakter mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau menyelenggarakan Workshop Pantun bertema “Menghidupkan Budaya, Menguatkan Identitas: Pantun sebagai Akar Identitas Mahasiswa PAI” di Auditorium Razali Jaya pada Rabu (3/6/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif dalam memperkuat literasi budaya, merevitalisasi nilai-nilai kemelayuan, serta memperkenalkan pendekatan inovatif berbasis teknologi sebagai upaya menjaga keberlanjutan tradisi pantun di tengah dinamika transformasi era digital.

Workshop diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) serta mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan STAIN SAR Kepri. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami pantun tidak hanya sebagai karya sastra lisan, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan karakter, media komunikasi budaya, serta representasi identitas masyarakat Melayu yang sarat dengan nilai etika, kesantunan, dan kebijaksanaan.

Hadir sebagai narasumber, Kepala Unit Studi Pantun dan Khazanah Melayu STAIN SAR Kepri, Ramli Muasmara, M.Pd.I., yang menyampaikan materi mengenai landasan filosofis, struktur, fungsi, dan perkembangan pantun dalam konteks masyarakat kontemporer. Materi yang disampaikan juga mengajak peserta merefleksikan relevansi pantun sebagai media ekspresi dan pembelajaran yang tetap adaptif di tengah perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta tantangan pelestarian budaya di era modern.

Dalam pemaparannya, Ramli menjelaskan bahwa pantun bukan sekadar karya sastra berima, melainkan bagian dari sistem nilai yang hidup di tengah masyarakat Melayu. Pantun hadir sebagai media komunikasi yang mengandung pesan moral, pendidikan karakter, etika sosial, hingga menjadi sarana dakwah dan penguatan relasi sosial yang harmonis.


Menurutnya, secara filosofis pantun mengandung nilai sopan santun dan keteraturan dalam menyampaikan gagasan. Oleh karena itu, keberadaan pantun tidak hanya dipahami sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan cara berpikir dan bersikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai struktur dasar pantun yang terdiri atas empat baris dengan pola sampiran dan isi serta sajak A-B-A-B. Selain itu, dijelaskan pula kaidah penulisan pantun yang ideal, mulai dari jumlah suku kata, pemilihan diksi, hingga penggunaan simbol-simbol alam dan identitas lokal yang memperkaya makna dalam setiap bait.

Tidak hanya membahas pantun sebagai warisan sastra lisan, kegiatan ini turut memperkenalkan konsep Pantunesia, sebuah inovasi digital yang dirancang untuk mendekatkan tradisi berpantun kepada generasi muda melalui pendekatan teknologi.

“Melalui konsep tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada pemanfaatan platform digital sebagai media pembelajaran interaktif yang memungkinkan pengguna memahami struktur pantun, mengenal ragam jenis pantun, serta mempraktikkan penulisan pantun sesuai kaidah sastra Melayu,” ujar Ramli.

Diskusi yang berlangsung secara interaktif menunjukkan antusiasme peserta dalam mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat berperan sebagai instrumen pelestarian budaya tanpa menghilangkan nilai autentik yang melekat pada tradisi tersebut.

Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN SAR Kepri, Dr. Nahrim Ajmain, M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilepaskan dari peran generasi muda dan institusi pendidikan tinggi.


Menurutnya, pantun merupakan bagian penting dari identitas intelektual dan peradaban masyarakat Melayu yang perlu terus dihidupkan melalui pendekatan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Pantun bukan hanya karya sastra tradisional, tetapi juga media pendidikan karakter yang mengajarkan etika, kesantunan, dan kebijaksanaan. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang pembelajaran yang mampu menghubungkan tradisi dengan inovasi agar budaya tetap hidup dan berkembang di tengah transformasi digital,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi budaya sekaligus membangun kesadaran mahasiswa agar tidak tercerabut dari akar identitas lokal di era global.

Melalui workshop ini, HMPS PAI STAIN SAR Kepri kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kegiatan kemahasiswaan yang tidak hanya berorientasi pada penguatan akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, pelestarian budaya, serta penguatan nilai keislaman dan kemelayuan sebagai identitas kampus. (LF/Khairul)