السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Tanjungpinang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau melaksanakan Kunjungan Edukatif Mata Kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an bertajuk “Mengenal Al-Qur’an Braille bersama Pengajar SLBN 1 Tanjungpinang” pada Selasa (2/6/2026) di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Tanjungpinang.
Kegiatan
ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran lapangan yang dirancang
untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai keberagaman mushaf Al-Qur’an,
khususnya Al-Qur’an Braille sebagai media pembelajaran bagi penyandang
disabilitas netra. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana penguatan kompetensi
mahasiswa dalam memahami praktik pendidikan Al-Qur’an yang inklusif dan adaptif
terhadap kebutuhan masyarakat.
Turut
hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SLBN 1 Tanjungpinang, Iskhak Iskandar,
S.Pd., Dosen Pengampu Mata Kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an, Devi Nirmayuni,
M.Ag., narasumber sekaligus pengajar Braille SLBN 1 Tanjungpinang, Zulfahmi,
S.Pd., serta mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAIN SAR Kepri.
Dalam
pemaparannya, Zulfahmi menjelaskan bahwa pembelajaran Al-Qur’an Braille
memerlukan tingkat konsentrasi dan sensitivitas perabaan yang tinggi karena
setiap titik pada huruf Braille memiliki karakter yang sangat mirip ketika
dirasakan melalui sentuhan.
Menurutnya, kemampuan membaca Braille tidak terbentuk secara instan, tetapi memerlukan latihan yang berkelanjutan dan pendampingan yang tepat.

.jpeg)
“Untuk
mempelajari huruf Braille dibutuhkan fokus dan kepekaan dalam meraba. Setiap
titik akan terasa serupa apabila tidak dilatih secara konsisten. Bahkan masih
terdapat penyandang tunanetra yang mengalami kesulitan membaca Braille karena
keterbatasan kesempatan belajar sejak awal,” jelasnya.
Melalui
sesi interaktif dan praktik pengenalan huruf Braille, mahasiswa memperoleh
pengalaman langsung dalam memahami struktur penulisan mushaf Al-Qur’an Braille
serta metode pengajarannya bagi peserta didik tunanetra.
Dosen
Pengampu Mata Kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an, Devi Nirmayuni, M.Ag.,
menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut sebagai bagian dari
penguatan implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential
learning).
Menurutnya, pembelajaran pada mata kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan teoritis di ruang kelas, tetapi juga perlu menghadirkan pengalaman lapangan agar mahasiswa mampu memahami perkembangan praktik pendidikan Al-Qur’an di masyarakat.
.jpeg)
.jpeg)
“Kegiatan
ini menjadi ruang belajar yang sangat relevan bagi mahasiswa karena memberikan
pengalaman langsung untuk mengenal Al-Qur’an Braille sebagai bentuk pelayanan
pendidikan Al-Qur’an yang inklusif. Mahasiswa IAT perlu memahami bahwa
perkembangan kajian Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada mushaf cetak standar,
tetapi juga mencakup berbagai bentuk mushaf yang disesuaikan dengan kebutuhan
pengguna,” tegasnya.
Ia
menambahkan bahwa keberadaan Al-Qur’an Braille menjadi bukti nyata hadirnya
akses pendidikan Al-Qur’an yang setara dan berkeadilan bagi seluruh lapisan
masyarakat tanpa terkecuali.
Sementara
itu, Kepala SLBN 1 Tanjungpinang, Iskhak Iskandar, S.Pd., menyambut positif
kunjungan mahasiswa STAIN SAR Kepri dan berharap kegiatan serupa dapat menjadi
awal penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan
khusus.
Menurutnya, kolaborasi semacam ini penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan inklusif sekaligus memperluas literasi mengenai metode pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra.

.jpeg)
Salah
satu mahasiswa peserta, Muhammad Rauf Amrullah, mengungkapkan bahwa kunjungan
tersebut memberikan perspektif baru mengenai pentingnya aksesibilitas Al-Qur’an
bagi seluruh umat Islam.
Ia
menilai pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya pengetahuan akademik, tetapi
juga menumbuhkan empati, kepedulian sosial, dan penghargaan terhadap perjuangan
para penyandang tunanetra dalam mempelajari Al-Qur’an.
“Melalui
kegiatan ini kami belajar bahwa setiap muslim memiliki hak yang sama untuk
memahami Al-Qur’an. Pendidikan Al-Qur’an harus mampu menjangkau seluruh
kalangan dengan pendekatan yang sesuai kebutuhan masing-masing,” ujarnya.
Melalui
kunjungan edukatif ini, Program Studi IAT STAIN SAR Kepri kembali menunjukkan
komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan
berbasis pengabdian masyarakat sekaligus memperkuat kompetensi mahasiswa dalam
memahami dinamika pendidikan Al-Qur’an di era yang semakin beragam dan terbuka.
(LF/Devi/Rauf)
STAIN Sultan Abdurrahman Kepri Matangkan Persiapan Praktik Perkuliahan Lapangan Tahun 2026
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN