السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kunjungan Edukatif ke SLBN 1 Tanjungpinang, Mahasiswa IAT STAIN SAR Kepri Dalami Metode Pembelajaran Al-Qur’an Braille

  • 02 Juni 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 89
Berita Utama

Tanjungpinang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau melaksanakan Kunjungan Edukatif Mata Kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an bertajuk “Mengenal Al-Qur’an Braille bersama Pengajar SLBN 1 Tanjungpinang” pada Selasa (2/6/2026) di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Tanjungpinang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran lapangan yang dirancang untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai keberagaman mushaf Al-Qur’an, khususnya Al-Qur’an Braille sebagai media pembelajaran bagi penyandang disabilitas netra. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana penguatan kompetensi mahasiswa dalam memahami praktik pendidikan Al-Qur’an yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SLBN 1 Tanjungpinang, Iskhak Iskandar, S.Pd., Dosen Pengampu Mata Kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an, Devi Nirmayuni, M.Ag., narasumber sekaligus pengajar Braille SLBN 1 Tanjungpinang, Zulfahmi, S.Pd., serta mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAIN SAR Kepri.

Dalam pemaparannya, Zulfahmi menjelaskan bahwa pembelajaran Al-Qur’an Braille memerlukan tingkat konsentrasi dan sensitivitas perabaan yang tinggi karena setiap titik pada huruf Braille memiliki karakter yang sangat mirip ketika dirasakan melalui sentuhan.

Menurutnya, kemampuan membaca Braille tidak terbentuk secara instan, tetapi memerlukan latihan yang berkelanjutan dan pendampingan yang tepat.


“Untuk mempelajari huruf Braille dibutuhkan fokus dan kepekaan dalam meraba. Setiap titik akan terasa serupa apabila tidak dilatih secara konsisten. Bahkan masih terdapat penyandang tunanetra yang mengalami kesulitan membaca Braille karena keterbatasan kesempatan belajar sejak awal,” jelasnya.

Melalui sesi interaktif dan praktik pengenalan huruf Braille, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam memahami struktur penulisan mushaf Al-Qur’an Braille serta metode pengajarannya bagi peserta didik tunanetra.

Dosen Pengampu Mata Kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an, Devi Nirmayuni, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

Menurutnya, pembelajaran pada mata kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan teoritis di ruang kelas, tetapi juga perlu menghadirkan pengalaman lapangan agar mahasiswa mampu memahami perkembangan praktik pendidikan Al-Qur’an di masyarakat.


“Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang sangat relevan bagi mahasiswa karena memberikan pengalaman langsung untuk mengenal Al-Qur’an Braille sebagai bentuk pelayanan pendidikan Al-Qur’an yang inklusif. Mahasiswa IAT perlu memahami bahwa perkembangan kajian Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada mushaf cetak standar, tetapi juga mencakup berbagai bentuk mushaf yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan Al-Qur’an Braille menjadi bukti nyata hadirnya akses pendidikan Al-Qur’an yang setara dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Sementara itu, Kepala SLBN 1 Tanjungpinang, Iskhak Iskandar, S.Pd., menyambut positif kunjungan mahasiswa STAIN SAR Kepri dan berharap kegiatan serupa dapat menjadi awal penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan khusus.

Menurutnya, kolaborasi semacam ini penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan inklusif sekaligus memperluas literasi mengenai metode pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra.


Salah satu mahasiswa peserta, Muhammad Rauf Amrullah, mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut memberikan perspektif baru mengenai pentingnya aksesibilitas Al-Qur’an bagi seluruh umat Islam.

Ia menilai pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya pengetahuan akademik, tetapi juga menumbuhkan empati, kepedulian sosial, dan penghargaan terhadap perjuangan para penyandang tunanetra dalam mempelajari Al-Qur’an.

“Melalui kegiatan ini kami belajar bahwa setiap muslim memiliki hak yang sama untuk memahami Al-Qur’an. Pendidikan Al-Qur’an harus mampu menjangkau seluruh kalangan dengan pendekatan yang sesuai kebutuhan masing-masing,” ujarnya.

Melalui kunjungan edukatif ini, Program Studi IAT STAIN SAR Kepri kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan berbasis pengabdian masyarakat sekaligus memperkuat kompetensi mahasiswa dalam memahami dinamika pendidikan Al-Qur’an di era yang semakin beragam dan terbuka. (LF/Devi/Rauf)