السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Belajar Mushaf Braille, Mahasiswa IAT STAIN SAR Kepri Siapkan Kontribusi bagi Penyandang Disabilitas Netra

  • 11 Mei 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 117
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau terus mendorong penguatan literasi keislaman yang inklusif melalui pembelajaran Al-Qur’an Braille dalam mata kuliah Metode Pentashihan Al-Qur’an yang diampu oleh Devi Nirmayuni, M.Ag. Kegiatan pembelajaran tersebut dilaksanakan pada Senin (11/5/2026) dan diikuti oleh mahasiswa Semester VI sebagai bagian dari penguatan kompetensi akademik berbasis pelayanan keagamaan inklusif.

Pembelajaran Al-Qur’an Braille ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai tata cara membaca dan menulis Mushaf Standar Braille yang menjadi salah satu dari tiga mushaf standar yang diterbitkan oleh Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama Republik Indonesia.

Hadir sebagai narasumber, Hari Marianto, S.Hum., yang memberikan pengenalan terkait sistem penulisan huruf Latin Braille dan huruf Hijaiyyah Braille. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya memperoleh materi teoritis, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik penulisan menggunakan alat Reglet dan Stylus sebagai perangkat utama dalam penulisan Braille.

Selain praktik penulisan, mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan cara membaca teks Al-Qur’an Braille guna memahami pola huruf, titik, dan struktur bacaan secara lebih mendalam. Kegiatan tersebut berlangsung interaktif dan menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar mahasiswa.


Salah satu mahasiswa Semester VI, Grandis Rangga Putra, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan pembelajaran tersebut. Menurutnya, kegiatan ini membuka wawasan baru terkait pentingnya penguasaan Al-Qur’an Braille sebagai bagian dari pelayanan literasi keagamaan bagi penyandang disabilitas.

Alhamdulillah, melalui kegiatan ini saya memperoleh pemahaman bahwa pembelajaran Braille memerlukan praktik yang berkelanjutan dan tidak cukup hanya mengandalkan hafalan. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dan diharapkan dapat terus dilaksanakan agar memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat dalam mengakses Al-Qur’an,” ungkapnya.

Melalui pembelajaran ini, mahasiswa Prodi IAT diharapkan memiliki sensitivitas sosial dan kemampuan akademik yang lebih luas dalam mendukung aksesibilitas literasi Al-Qur’an bagi masyarakat, khususnya penyandang disabilitas netra. Kehadiran mahasiswa yang memahami sistem Al-Qur’an Braille dinilai dapat menjadi kontribusi nyata perguruan tinggi dalam memperkuat pendidikan Islam yang inklusif, humanis, dan berkeadaban. (LF/Devi)