السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Masjid Bukan Cuma Tempat Ibadah: Mahasiswa Spill Solidarity Movement di Kota Tanjungpinang

  • 23 Februari 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 84
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu - Sejumlah mahasiswa melaksanakan kegiatan Wawancara Praktik Tolong-Menolong dalam Masyarakat pada Senin, (23/02) di Masjid Nurul Islam, Jalan Hang Lekir Batu 9, Kota Tanjungpinang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji secara langsung bagaimana budaya tolong-menolong hidup dan berkembang di lingkungan masjid. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas perkuliahan dalam mata kuliah MBKM Tafsir Ayat Dakwah yang diampu oleh dosen Nur Ikhlas.

Wawancara menghadirkan Ketua RT setempat, Edwar Supratman, sebagai narasumber. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Andre Pancarian, Adilla Marsya Naya, Diva Rahmadani Afkar, Grandis Rangga Putra, Reno Desta Saputra, dan Suci Nurfazila.

Dalam pemaparannya, Edwar Supratman menjelaskan bahwa kegiatan di Masjid Nurul Islam tergolong aktif, baik dalam aspek keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Bentuk tolong-menolong yang berjalan antara lain gotong royong kebersihan, bantuan bagi warga yang mengalami musibah, dukungan dalam kegiatan keagamaan, serta partisipasi dalam peringatan hari besar Islam.

Ia menegaskan bahwa masjid memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas sosial. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang bertumbuhnya kebersamaan, kepedulian, dan interaksi antarwarga. Meski demikian, ia mengakui partisipasi masyarakat belum merata dan masih perlu ditingkatkan, terutama dari kalangan generasi muda.

Sebagai perwakilan masyarakat, Edwar Supratman menyampaikan bahwa budaya tolong-menolong di lingkungan masjid mendapat respons positif dari warga. Ia berharap nilai kebersamaan yang telah terbentuk dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Harapannya, generasi muda semakin aktif dalam kegiatan masjid agar solidaritas tetap terjaga dan lingkungan tetap harmonis, solid, serta saling mendukung.

Sementara itu, Diva Rahmadani Afkar selaku perwakilan mahasiswa menyampaikan bahwa kegiatan wawancara ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana nilai-nilai tolong-menolong tidak hanya menjadi konsep teori, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. 

“Kami melihat bahwa masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penguatan solidaritas sosial. Budaya saling membantu yang ada di sini menjadi contoh nyata bagaimana kebersamaan dapat membangun lingkungan yang harmonis,” ujarnya.


Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap budaya tolong-menolong yang telah terbangun dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan, terutama dengan melibatkan generasi muda secara lebih aktif. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkaya wawasan akademik sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya solidaritas sosial, baik di lingkungan masyarakat maupun di kampus. (Gby/Dipa)