السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Living Qur’an di Sei Nyirih: Mahasiswa Praktikum Tafsir Teliti Pengobatan Spiritual Berbasis Ayat Suci

  • 26 Februari 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 70
Kegiatan Mahasiswa

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu - Sejumlah mahasiswa melaksanakan penelitian lapangan dalam rangka praktikum Tafsir dengan mengangkat tema praktik pengobatan spiritual berbasis bacaan Al-Qur’an pada (26/02) di Sei Nyirih, Tembeling, Kabupaten Bintan. Kegiatan ini menghadirkan Pak Puase sebagai narasumber utama yang selama ini dikenal masyarakat setempat sebagai praktisi pengobatan spiritual berbasis ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas perkuliahan dalam mata kuliah MBKM Tafsir Ayat Dakwah yang diampu oleh dosen Nur Ikhlas. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini yakni Adinda Viviana, Andryan Kurnia Pratama, Salsabilla Rahmadhani, Siti Wahdaniah Nur Annisa, dan Syah Fitri Pasaribu. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengkaji secara langsung praktik pengobatan spiritual yang berkembang di tengah masyarakat serta menelaah relevansinya dalam perspektif tafsir Al-Qur’an sebagai bagian dari pendekatan living Qur’an.

Dalam pemaparannya, Pak Puase menegaskan bahwa dirinya bukan seorang dukun, melainkan membantu masyarakat melalui kemampuan yang ia yakini bersumber dari pemahaman dan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa praktik tersebut telah dijalankannya sejak masih lajang hingga kini berkeluarga dan memiliki tiga orang anak. Menurutnya, metode yang dilakukan merupakan bentuk ikhtiar spiritual dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai media doa, ruqyah, dan penguatan batin.

Ia juga menyampaikan bahwa tingkat kesembuhan seseorang tidak hanya bergantung pada metode yang digunakan, tetapi turut dipengaruhi oleh kesungguhan, keyakinan, serta kedekatan spiritual pasien kepada Allah SWT. Keimanan dan ketakwaan, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam setiap proses pengobatan yang dilakukan.

Sementara itu, Siti Wahdaniah Nur Annisa selaku Ketua Kelompok 3 menyampaikan bahwa hasil penelitian menunjukkan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dipahami secara tekstual di ruang kelas, tetapi juga hidup dan diamalkan dalam praktik sosial masyarakat. Fenomena ini dinilai menjadi bukti bahwa Al-Qur’an hadir dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk dalam konteks pengobatan spiritual.

Ia juga menambahkan bahwa dalam praktik tersebut terdapat pesan moral yang kuat, yakni pentingnya menjauhi sifat iri dan dengki yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan tindakan yang dilarang agama. Penggunaan jalan pintas yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, jelasnya, berpotensi menjerumuskan seseorang pada perbuatan syirik dan penyimpangan akidah.

Melalui kegiatan ini, masyarakat semakin memahami bahwa kesembuhan sejati berasal dari Allah SWT, sementara manusia hanya berperan sebagai perantara dalam proses ikhtiar. Secara akademik, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah bagi pengembangan kajian tafsir kontekstual serta memperkaya diskursus tentang praktik pengobatan spiritual berbasis Al-Qur’an di lingkungan kampus, khususnya bagi mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen. (Gby/Fitri)