السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Peringatan Bahaya Ghibah, Dr. Amrul Luhfi Ajak Civitas STAIN SAR Kepri Jaga Lisan di Bulan Ramadan

  • 04 Maret 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 175
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Kegiatan kultum Ramadan di Masjid Sultan Abdurrahman Muazzamsyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau (STAIN SAR Kepri) kembali menghadirkan tausiah yang sarat nilai moral dan spiritual pada Rabu (4/3/2026). Bertindak sebagai penceramah, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Dr. Amrul Luhfi, M.Pd.I., menyampaikan materi bertema “Ghibah dan Bahayanya dalam Kehidupan.”

Dalam ceramahnya, Dr. Amrul Luhfi menegaskan bahwa ghibah atau menggunjing merupakan perbuatan tercela yang memiliki dampak serius, baik secara spiritual maupun sosial. Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai daging saudara sendiri, sebuah perumpamaan yang menunjukkan betapa jijik dan beratnya dosa tersebut.

“Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat tegas tentang bahaya ghibah. Perumpamaan memakan bangkai saudara sendiri menggambarkan betapa mengerikannya perbuatan ini,” ujarnya di hadapan jamaah.


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ghibah tidak hanya merusak hubungan antarsesama, tetapi juga dapat menggerogoti nilai pahala ibadah yang telah dilakukan. Dalam konteks Ramadan, menjaga lisan menjadi bagian penting dari kesempurnaan puasa, karena ibadah tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari ucapan yang menyakiti orang lain.

Dr. Amrul Luhfi turut mengingatkan bahwa konsekuensi dari perilaku ghibah sangat berat, bahkan dapat mengantarkan pelakunya pada balasan yang buruk di akhirat apabila tidak segera disertai dengan taubat dan perbaikan diri. Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum introspeksi, memperbaiki akhlak, serta membangun budaya komunikasi yang santun dan beretika di lingkungan kampus.

Melalui kultum tersebut, diharapkan seluruh jamaah semakin menyadari urgensi menjaga lisan sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai ketakwaan. Ramadan pun dimaknai sebagai ruang pembinaan spiritual untuk membentuk pribadi yang lebih bijak dalam bertutur, menjaga kehormatan sesama, dan menjauhi perilaku yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah. (LF/Makrup)