السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Festival Tradisi Lisan Melayu STAIN SAR Kepri Teguhkan Komitmen Pelestarian Budaya Melayu

  • 02 Desember 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 175
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Unit Studi Melayu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menyelenggarakan Festival Tradisi Lisan Melayu pada Selasa, 2 Desember 2025 di Auditorium Razali Jaya. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus sarana pelestarian khazanah tradisi lisan Melayu di lingkungan kampus, khususnya melalui lomba berbalas pantun yang diikuti mahasiswa dari seluruh program studi.

Kepala Unit Studi Melayu, Romi Aqmal, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, dan pimpinan program studi yang telah memberikan dukungan aktif sehingga festival dapat terlaksana dengan baik. Ia menjelaskan bahwa panitia festival merupakan mahasiswa dari kelas Event Organizer yang tengah melaksanakan praktik penyelenggaraan kegiatan nyata sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek.

Romi menegaskan bahwa penyelenggaraan festival ini merupakan bentuk komitmen Unit Studi Melayu dalam merawat dan menghidupkan kembali tradisi lisan Melayu. Menurutnya, tradisi berbalas pantun tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat pesan moral, nasihat, serta nilai pendidikan yang telah lama menjadi identitas budaya masyarakat Kepulauan Riau.

“Sebagai kampus yang menjunjung tinggi prinsip budaya Melayu, kita berkewajiban menghidupkan kembali tradisi-tradisi ini. Pantun adalah warisan budaya yang telah diakui UNESCO, dan melalui kegiatan seperti ini kita berharap mahasiswa dapat terus melestarikannya dalam berbagai ruang akademik maupun sosial,” ujarnya.


Ia juga menyampaikan harapan agar seluruh program studi dapat terus terlibat secara aktif dalam kegiatan pelestarian budaya Melayu. Romi mengapresiasi meningkatnya partisipasi mahasiswa, termasuk tiga tim dari Program Studi AKS yang menunjukkan antusiasme luar biasa dalam festival tahun ini. Menurutnya, keterlibatan lintas prodi menjadi indikator bahwa tradisi lisan Melayu semakin diterima sebagai bagian dari identitas akademik kampus.

Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua II STAIN SAR Kepri, Dr. Almahfuz, M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penguatan budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan karakter civitas academica. Ia menyampaikan bahwa pantun merupakan media penyampai pesan yang halus, penuh nilai, dan menjadi warisan intelektual Melayu yang perlu terus dipraktikkan.

“Pantun bukan hanya seni, melainkan cermin kecerdasan orang Melayu dalam menyampaikan pesan moral dan sosial. Kampus harus menjadi ruang hidup bagi tradisi ini, baik melalui kegiatan akademik maupun kegiatan kemahasiswaan,” ungkapnya.


Wakil Ketua II juga memaparkan upaya kampus dalam memperkuat budaya Melayu melalui pembangunan Melayu Corner dan fasilitas pendukung lain yang akan menyediakan berbagai referensi pantun, sastra, dan kebudayaan Melayu. Menurutnya, penguatan budaya lokal tidak boleh hanya menjadi simbol akreditasi, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan kampus sehari-hari dan menjadi inspirasi pembentukan karakter mahasiswa.

Festival Tradisi Lisan Melayu tahun ini diisi dengan kompetisi berbalas pantun antarmahasiswa dari seluruh program studi. Para peserta menampilkan kreativitas, kecakapan berbahasa, serta pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai budaya Melayu melalui pantun-pantun yang mereka bawakan. Suasana kompetisi berlangsung hangat, penuh keakraban, dan sarat nilai pendidikan budaya.

Melalui penyelenggaraan festival ini, STAIN SAR Kepri mempertegas komitmennya dalam pelestarian tradisi lisan Melayu sebagai bagian dari identitas institusi dan kontribusi bagi keberlanjutan budaya lokal di Kepulauan Riau. Kegiatan ini diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang mampu menginspirasi mahasiswa untuk terus mencintai, mempelajari, dan menghidupkan tradisi Melayu dalam setiap ruang kehidupan. (LF/Sindy)