السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Menembus Batas Negara, Seminar Internasional STAIN SAR Kepri–KUIJSI Malaysia Gagas Masa Depan Dakwah dan Ekonomi Digital

  • 13 Agustus 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 177
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Kolaborasi akademik lintas negara antara Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau dan Kolej Universiti Islam Johor Sultan Ibrahim (KUIJSI), Malaysia, terus diarahkan pada kegiatan yang memberi ruang bagi pertukaran gagasan, pengalaman, dan wawasan bagi sivitas akademika. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Seminar Internasional bertajuk “Opportunities and Challenges of Dakwah and Economy in the Digital Era; Young Leaders: Innovate, Inspire, Impact” di Ruang Rapat Dosen Gedung Kuliah Terpadu STAIN SAR Kepri, Kamis (13/8/2026).

Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan Program Jaringan Dakwah Antarabangsa KUIJSI ke STAIN SAR Kepri. Kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan peluang pendidikan tinggi lintas negara kepada mahasiswa KUIJSI, khususnya dalam bidang agama dan pendidikan, sekaligus memperluas pemahaman mengenai budaya, dakwah, dan aktivitas kemahasiswaan di lingkungan STAIN SAR Kepri.

Hadir sebagai narasumber, Dekan Sekolah Muamalat dan Pengurusan KUIJSI, Puan Nur Hafizah Binti Jamaluddin; Ketua Program Studi Manajemen Bisnis Syariah (MBS) STAIN SAR Kepri, Kamaruzaman, M.M.; Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Nadya Nela Rosa, M.Psi.; serta dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Arinil Haq, M.Sos. Kegiatan dimoderatori Shidratul Attika, M.Pd.

Dalam pemaparannya, Kamaruzaman mengangkat tema “Opportunities and Challenges in Dakwah and Economy in the Digital Era: The Islamic Solution Perspective and the Strengthening of an Equitable Sharia Economy.” Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dakwah dan ekonomi Islam.

Menurutnya, perkembangan ekonomi digital perlu diimbangi dengan penguatan nilai moral, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Prinsip ekonomi Islam tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian material, tetapi juga menempatkan etika, kemaslahatan, dan amanah sebagai fondasi dalam aktivitas ekonomi.

“Ekonomi syariah tidak memisahkan pencarian kekayaan material dari nilai moral dan akhlak. Manusia merupakan khalifah yang diberi amanah untuk mengelola sumber daya dengan penuh tanggung jawab,” jelasnya.


Ia juga menyoroti pentingnya penerapan etika bisnis dalam ekosistem digital, terutama kejujuran, transparansi, perlindungan konsumen, harga yang adil, serta orientasi terhadap kemaslahatan bersama. Dalam konteks tersebut, reputasi dan kepercayaan menjadi modal penting dalam membangun keberlanjutan aktivitas ekonomi digital.

Sementara itu, Nadya Nela Rosa, M.Psi., membahas peluang dan tantangan dakwah serta ekonomi digital dari perspektif Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Perspektif tersebut memperluas diskusi mengenai pentingnya menyiapkan generasi sejak dini agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.

Sementara Arinil Haq, M.Sos., turut memperkaya diskusi melalui perspektif komunikasi dan penyiaran Islam, terutama mengenai perkembangan dakwah di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat pada era digital.

Plt. Wakil Ketua I STAIN SAR Kepri, Dr. Fadhila Yonata, M.Pd., mengapresiasi kehadiran delegasi KUIJSI dan menegaskan bahwa kerja sama internasional harus diarahkan pada program yang memberikan manfaat nyata bagi sivitas akademika.

“Kolaborasi ini kita harapkan tidak hanya sebatas MoU di atas kertas, tetapi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kerja sama antara dosen, mahasiswa, maupun pengembangan program akademik bersama,” ujarnya.

Menurutnya, seminar internasional tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan perspektif akademisi dari kedua institusi. Selain memperluas wawasan keilmuan, kegiatan tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi dalam penelitian, publikasi, pengembangan program akademik, serta kegiatan kemahasiswaan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan mahasiswa KUIJSI dan STAIN SAR Kepri. Forum ini diarahkan sebagai ruang pertukaran pengalaman, diskusi lintas budaya, serta penguatan jejaring antarmahasiswa.


Dekan Sekolah Muamalat dan Pengurusan KUIJSI, Puan Nur Hafizah Binti Jamaluddin, menyampaikan apresiasi atas sambutan STAIN SAR Kepri. Ia menilai jejaring internasional memiliki peran penting dalam memperluas wawasan mahasiswa dan mempersiapkan mereka menghadapi lingkungan kerja yang semakin kompetitif.

“Jaringan internasional penting bagi mahasiswa karena dapat membuka wawasan, memperluas pengalaman, dan memberikan persiapan yang lebih baik ketika mereka memasuki dunia pekerjaan,” jelasnya.

Ia juga memperkenalkan sejumlah program akademik KUIJSI yang memadukan pembelajaran teoretis dan praktis, termasuk bidang pengurusan halal dan pengajian Islam. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan profesi.

Melalui seminar internasional dan rangkaian kegiatan akademik tersebut, STAIN SAR Kepri dan KUIJSI tidak hanya mempertemukan dua institusi pendidikan tinggi dari Indonesia dan Malaysia, tetapi juga membangun ruang kolaborasi yang lebih luas bagi dosen dan mahasiswa.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk mengembangkan kerja sama yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan, dakwah, penelitian, publikasi, dan pengembangan kapasitas mahasiswa, sekaligus memperkuat jejaring perguruan tinggi Islam di tingkat regional. (LF)