السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pelatihan Al-Barzanji Jadi Suluh Budi Pekerti Pemuda Melayu, STAIN SAR Kepri Perkuat Regenerasi Tradisi Keagamaan dan Budaya

  • 12 Juni 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 85
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Upaya menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan dan khazanah budaya Melayu terus diperkuat oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau melalui penyelenggaraan Pelatihan Al-Barzanji sebagai Suluh Budi Pekerti Pemuda Melayu di Kepulauan Riau yang berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu (12–13/6/2026) di Laboratorium Khazanah Melayu STAIN SAR Kepri.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen institusi dalam memperkuat identitas kemelayuan sekaligus membangun ruang regenerasi tradisi Islam Melayu di kalangan generasi muda. Sebanyak 35 mahasiswa dari perwakilan perguruan tinggi di Kepulauan Riau mengikuti pelatihan yang menghadirkan pembelajaran historis, filosofis, hingga praktik pembacaan Al-Barzanji.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., Wakil Ketua II STAIN SAR Kepri sekaligus Ketua Pelaksana, Dr. Almahfuz, M.Si., serta para narasumber yang berasal dari kalangan pelestari budaya dan praktisi tradisi keagamaan Melayu, yaitu Drs. Sunardi, H. Zaidin Abadi, dan Ustadzah Sunarti.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana sekaligus Wakil Ketua II STAIN SAR Kepri, Dr. Almahfuz, M.Si., menjelaskan bahwa pelatihan ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya keterlibatan generasi muda dalam tradisi pembacaan Barzanji yang selama ini identik dengan kalangan orang tua.

Menurutnya, keberadaan Laboratorium Khazanah Melayu menjadi ruang strategis untuk menghidupkan kembali aktivitas pelestarian budaya berbasis nilai-nilai Islam dan kemelayuan di lingkungan perguruan tinggi.


“Fenomena yang kita lihat hari ini, tradisi Barzanji masih banyak dijalankan generasi terdahulu, sementara keterlibatan generasi muda mulai berkurang. Melalui pelatihan ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar sekaligus menumbuhkan regenerasi agar tradisi tersebut tetap hidup dan diwariskan,” ujarnya.

Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., yang membuka secara resmi kegiatan tersebut menegaskan bahwa pelestarian Barzanji tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus berkembang menjadi gerakan budaya yang melembaga di lingkungan perguruan tinggi.

Ia berharap mahasiswa dapat menjadi pionir dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut melalui pembentukan komunitas maupun kolaborasi antarkampus di Kepulauan Riau.

“Siapa lagi yang akan menjaga dan membesarkan budaya Melayu jika bukan generasi muda sendiri. Saya berharap dari pelatihan ini lahir kelompok-kelompok Barzanji di perguruan tinggi yang nantinya dapat berkembang menjadi ruang kolaborasi dan penguatan identitas budaya Melayu,” ungkapnya.

Pada sesi materi, Drs. Sunardi memaparkan sejarah dan perkembangan Kitab Al-Barzanji sebagai salah satu karya sastra keagamaan penting yang ditulis oleh Sayyid Ja’far bin Hasan al-Barzanji pada abad ke-18. Kitab tersebut berisi doa, selawat, serta riwayat perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW yang dikemas dalam bentuk prosa dan syair.


Ia menjelaskan bahwa tradisi pembacaan Barzanji telah berkembang luas di Nusantara dan menjadi bagian dari berbagai ritus sosial-keagamaan seperti Maulid Nabi, akikah, pernikahan, khataman Al-Qur’an, hingga tradisi masyarakat Melayu. Di Kepulauan Riau, tradisi ini bahkan telah menjadi bagian dari Warisan Budaya Tak Benda yang merepresentasikan identitas budaya lokal.

Sementara itu, H. Zaidin Abadi menyoroti kandungan utama Kitab Al-Barzanji yang memuat silsilah, perjalanan hidup, serta keteladanan Rasulullah SAW yang dituangkan melalui struktur pembacaan rawi. Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi pada keberadaan kitab, melainkan pada upaya menjaga minat generasi muda agar tetap mengenal, memahami, dan menghidupkan tradisi tersebut dalam kehidupan masyarakat modern.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, serta praktik pembacaan Al-Barzanji. Melalui pelatihan ini, STAIN SAR Kepri berharap lahir generasi muda Melayu yang tidak hanya memahami nilai-nilai budaya dan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi pelaku aktif dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah arus transformasi zaman. (LF)