السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu – Pemahaman masyarakat yang menganggap arah kiblat identik dengan arah barat menjadi salah satu bahasan menarik dalam kegiatan Pelatihan Hisab Rukyat Tingkat Pemula yang ditaja oleh Laboratorium Ilmu Falak STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Rabu (10/06).
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Hisab Rukyat STAIN Kepri tersebut menghadirkan Kepala Laboratorium Ilmu Falak STAIN Kepri, M. Arbisora Angkat, M.Ag, sebagai narasumber. Dalam kesempatan itu, ia mengajak peserta memahami konsep dasar arah kiblat melalui pendekatan ilmu falak dan visualisasi digital.
Arbisora menjelaskan bahwa arah kiblat merupakan arah terdekat seseorang menuju Ka'bah di permukaan bumi yang wajib dihadapi saat melaksanakan salat. Definisi tersebut merujuk pada pandangan pakar ilmu falak Slamet Hambali yang menekankan bahwa arah kiblat harus dipahami secara ilmiah berdasarkan posisi suatu tempat terhadap Ka'bah.
“Menentukan arah kiblat bukan sekadar mencari arah barat. Dalam ilmu falak, arah kiblat dihitung berdasarkan jalur terdekat menuju Ka'bah melalui permukaan bumi,” jelasnya di hadapan peserta.
Selain menjelaskan konsep dasar arah kiblat, Arbisora juga memperkenalkan satuan ukur yang digunakan dalam ilmu falak, yaitu derajat, menit, dan detik. Menurutnya, pemahaman terhadap satuan tersebut menjadi dasar penting dalam proses pengukuran dan perhitungan arah kiblat secara akurat.
Pada sesi berikutnya, peserta diajak memahami konsep arah kiblat dunia melalui visualisasi peta global. Melalui pemetaan tersebut, peserta dapat melihat bahwa setiap negara memiliki arah kiblat yang berbeda-beda sesuai dengan posisi geografisnya terhadap Ka'bah di Makkah.
Menariknya, Arbisora juga menjelaskan arah kiblat yang sebenarnya bagi wilayah Indonesia. Dengan bantuan visualisasi globe digital, ia menunjukkan bahwa arah kiblat di Indonesia tidak mengarah tepat ke barat sebagaimana yang selama ini dipahami sebagian masyarakat, melainkan cenderung mengarah ke barat laut mengikuti jalur lingkaran besar (great circle) menuju Ka'bah.
Penjelasan tersebut disambut antusias oleh peserta karena memberikan perspektif baru mengenai pentingnya penentuan arah kiblat berdasarkan pendekatan ilmiah. Peserta juga memperoleh gambaran bagaimana perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pengukuran arah kiblat secara lebih presisi.



Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Laboratorium Ilmu Falak STAIN Kepri dalam meningkatkan literasi ilmu falak di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Melalui pelatihan dasar seperti ini, peserta diharapkan mampu memahami konsep arah kiblat secara benar serta mengenal berbagai metode penentuannya yang berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Gby/Arbi)
Hasil UM-PTKIN 2026 Diumumkan 30 Juni, Ayo Cek Hasil Kelulusan dan Segera Daftar Ulang
Hasil UM-PTKIN 2026 Diumumkan 30 Juni, Ayo Cek Hasil Kelulusan dan Segera Daftar Ulang
Dosen STAIN Kepri Bawa Kajian Arah Kiblat Masjid Kesultanan Riau-Lingga ke Panggung Internasional
UM-PTKIN 2026 Diumumkan, 127 Generasi Unggul Resmi Menjadi Bagian STAIN Kepri