السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menyelenggarakan Workshop Photography dan Videografi Jurnalistik bertema “Membingkai Peristiwa, Mengabadikan Makna, Menguatkan Literasi Media” di Auditorium Razali Jaya STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Senin (8/6/2026).
Kegiatan
ini menjadi bagian dari upaya Program Studi KPI dalam memperkuat kompetensi
mahasiswa di bidang jurnalistik, fotografi, videografi, serta produksi konten
media yang profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi di
era digital.
Workshop
menghadirkan empat narasumber dari kalangan praktisi media dan industri
kreatif, yakni Sutana dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Tanjungpinang yang
membawakan materi Dasar-Dasar Jurnalistik untuk Era Digital, Jailani,
M.M., Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Kepulauan Riau dengan
materi Merancang Opini Menembus Meja Redaksi, Kurnia Syaifullah selaku
Kameraman, Video Jurnalis, sekaligus Kontributor TV One yang membahas Videografi
Dasar Jurnalistik/Berita, serta Albet, seorang fotografer profesional, yang
menyampaikan materi “Fotografi Bukan Sekadar Memotret, tetapi Bercerita.”
Ketua
Program Studi KPI STAIN SAR Kepri, Ahmad Hamdan, M.Sos., menegaskan bahwa
workshop tersebut dirancang untuk memberikan penguatan keterampilan praktis
kepada mahasiswa agar mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas,
informatif, dan bertanggung jawab.
Menurutnya,
penguasaan jurnalistik, fotografi, dan videografi merupakan kompetensi yang
sangat penting bagi mahasiswa KPI sebagai calon praktisi komunikasi, penyiaran,
dan media di masa depan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas Wakil Ketua I STAIN SAR Kepri, Dr. Fadhila Yonata, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penguasaan keterampilan jurnalistik dan produksi media sebagai bagian dari kompetensi utama mahasiswa KPI di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.


Ia
menyampaikan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori komunikasi dan
penyiaran, tetapi juga harus mampu mengimplementasikannya melalui karya
jurnalistik yang akurat, kreatif, dan memiliki nilai edukatif bagi masyarakat.
Pada
sesi pertama, Sutana membahas dasar-dasar jurnalistik di era digital. Ia
menjelaskan bahwa jurnalistik merupakan proses mengumpulkan, memverifikasi, dan
menyebarluaskan informasi kepada publik berdasarkan prinsip akurasi,
verifikasi, independensi, keberimbangan, dan etika.
Menurutnya,
tantangan utama jurnalistik saat ini meliputi maraknya hoaks, fenomena clickbait,
filter bubble, hingga perkembangan konten berbasis kecerdasan buatan
(Artificial Intelligence). Oleh karena itu, kemampuan melakukan cek fakta
menjadi keterampilan yang wajib dimiliki oleh setiap calon jurnalis.
“Jurnalistik
yang baik harus berlandaskan pada kebenaran dan proses verifikasi. Di tengah
banjir informasi digital, kemampuan memeriksa fakta menjadi semakin penting
agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipercaya,”
jelasnya.
Sementara itu, Jailani, M.M. membekali peserta dengan strategi menulis opini yang mampu menembus media massa. Ia menjelaskan bahwa opini yang baik harus dibangun melalui argumentasi yang kuat, didukung data yang relevan, serta menggunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami oleh pembaca.
Menurutnya, siapa pun memiliki peluang untuk menjadi penulis opini selama memiliki pengetahuan yang memadai, ide yang segar, kemampuan berargumentasi, serta memahami karakter media yang menjadi tujuan publikasi.
“Menulis
opini bukan sekadar menyampaikan pendapat, tetapi menghadirkan gagasan yang
mampu memberikan perspektif baru dan solusi terhadap persoalan yang berkembang
di masyarakat,” ujarnya.
Pada
sesi videografi jurnalistik, Kurnia Syaifullah menjelaskan berbagai konsep
dasar produksi video berita, mulai dari jenis-jenis video jurnalistik, teknik
pengambilan gambar, komposisi visual, hingga gerakan kamera yang efektif untuk
mendukung penyampaian informasi secara menarik dan profesional.
Ia
menekankan bahwa video jurnalistik harus memenuhi prinsip akurasi,
objektivitas, relevansi, dan keberimbangan sebagaimana karya jurnalistik pada
umumnya.
“Video jurnalistik bukan hanya soal gambar yang menarik, tetapi bagaimana visual tersebut mampu menyampaikan fakta secara jelas, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan,” terangnya.


Adapun
pada sesi fotografi, Albet mengajak peserta memahami bahwa fotografi bukan
sekadar aktivitas memotret, melainkan seni bercerita melalui visual.
Ia
menjelaskan pentingnya penguasaan segitiga eksposur yang meliputi aperture,
shutter speed, dan ISO, serta berbagai teknik komposisi seperti rule of
thirds, leading lines, dan framing untuk menghasilkan foto
yang memiliki kekuatan narasi.
Selain
itu, peserta juga diperkenalkan pada pentingnya pencahayaan dalam membangun
suasana, karakter, dan makna sebuah foto.
“Foto
yang baik bukan ditentukan oleh mahalnya kamera, tetapi oleh kemampuan
fotografer dalam melihat momen, memahami cahaya, dan menyampaikan cerita
melalui visual yang dihasilkan,” ungkapnya.
Workshop
berlangsung interaktif melalui sesi diskusi, praktik, dan tanya jawab.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya minat mahasiswa dalam mendalami
berbagai aspek jurnalistik, fotografi, dan videografi yang menjadi bagian
penting dari industri media modern.
Melalui
kegiatan ini, Program Studi KPI STAIN SAR Kepri berharap mahasiswa mampu
mengembangkan kemampuan jurnalistik dan produksi media secara profesional,
sekaligus menjadi agen literasi media yang kritis, kreatif, dan bertanggung
jawab dalam menghadapi tantangan komunikasi di era digital. (LF)
Pantau Langsung Peserta Ujian, Pimpinan STAIN Kepri Pastikan SSE UM PTKIN 2026 Berjalan Optimal
Tiga Hari Tujuh Sesi di STAIN Kepri, 182 Peserta Siap Ikuti SSE UM PTKIN 2026
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN