السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Cetak Generasi Pemantun Digital, Workshop Pantun HMPS PAI STAIN SAR Kepri Kokohkan Identitas Budaya Melayu di Era Teknologi

  • 05 Juni 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 146
Kegiatan Mahasiswa

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Semangat pelestarian budaya Melayu mewarnai pelaksanaan Workshop Pantun yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau selama tiga hari, Rabu–Jumat (3–5/6/2026). Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya diajak memahami nilai filosofis dan struktur pantun, tetapi juga didorong untuk mengembangkan inovasi dalam mempromosikan budaya melalui media digital.

Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang kebudayaan Melayu, sastra pantun, serta pengembangan kreativitas generasi muda, di antaranya Dr. Nahrim Ajmain, M.A., Zulfan Efendi, M.Pd.I., Ramli Muasmara, M.Pd.I., Muhammad Khairil Ramadhan, S.Pd., Mizuardi, S.Pd., dan Aditya Syahputra, S.H.

Kegiatan tersebut menjadi wadah edukatif bagi mahasiswa untuk memperdalam pemahaman mengenai pantun sebagai warisan budaya Melayu yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga mengandung pesan moral, pendidikan karakter, dan identitas kultural masyarakat.

Pada hari pertama, peserta memperoleh pemahaman mengenai dasar-dasar pantun, mulai dari pengertian, struktur, fungsi, hingga urgensi pelestarian tradisi pantun di tengah perkembangan zaman. Narasumber juga memperkenalkan aplikasi Pantunesia, sebuah inovasi digital yang dirancang sebagai media pembelajaran dan pengembangan kreativitas berpantun. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajarkan teknik menyusun isi pantun terlebih dahulu sebelum merancang sampiran yang sesuai sehingga menghasilkan pantun yang utuh dan bermakna.


Memasuki hari kedua, materi difokuskan pada keterampilan berpantun secara spontan. Peserta dilatih untuk mengembangkan kecepatan berpikir, ketepatan memilih diksi, serta kemampuan merangkai kata secara kreatif tanpa mengabaikan struktur dan kaidah pantun. Melalui latihan interaktif, mahasiswa diajak memahami bahwa pantun spontan bukan hanya membutuhkan penguasaan teori, tetapi juga kelincahan berpikir dan kemampuan berkomunikasi yang baik.

Sementara itu, pada hari ketiga, pembahasan diarahkan pada etika dalam menulis dan menyampaikan pantun. Narasumber menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang sopan dan santun sebagai ciri utama pantun Melayu. Pantun dipahami sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan, nasihat, kritik sosial, maupun humor secara bijaksana tanpa menyinggung pihak lain.

Pelaksana Tugas Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN SAR Kepri, Dr. Nahrim Ajmain, M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa pelestarian pantun membutuhkan keterlibatan generasi muda yang mampu membawa tradisi tersebut ke ruang-ruang publik dan media digital.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan kader-kader pemantun yang tidak hanya memahami nilai budaya, tetapi juga mampu mengomunikasikannya kepada masyarakat secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.


“Kita perlu mencari, membina, dan menyiapkan generasi pemantun yang siap hadir di tengah masyarakat sebagai agen pelestari budaya. Mahasiswa PAI diharapkan tidak hanya mampu berpantun, tetapi juga menjadi konten kreator pantun yang aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan dan mengembangkan budaya Melayu kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan berbagai platform digital dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan eksistensi pantun di kalangan generasi muda. Selain sebagai media pelestarian budaya, pantun juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi karya kreatif yang produktif dan bernilai manfaat.

Melalui penyelenggaraan workshop ini, HMPS PAI STAIN SAR Kepri menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian khazanah budaya Melayu sekaligus membangun kreativitas mahasiswa yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya mencintai budaya lokal, tetapi juga mampu menjadi duta budaya yang aktif mempromosikan pantun sebagai identitas bangsa di era digital. (LF/Khairul)