السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Depok, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan gagasan strategis mengenai pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi umat dalam forum bergengsi Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025 yang digelar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, 29–31 Oktober 2025. Konferensi internasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI ini mengangkat tema besar “Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidisciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future.”
Kegiatan
yang dihadiri oleh ratusan akademisi dan peneliti dari dalam maupun luar negeri
tersebut menjadi ruang kolaboratif untuk membahas isu-isu global seputar
perdamaian, ekoteologi, serta pemberdayaan ekonomi umat dalam bingkai
nilai-nilai Islam. Dalam sambutannya, Menag menekankan bahwa Indonesia kini
dipercaya dunia sebagai negara dengan peran strategis dalam diplomasi
kemanusiaan dan perdamaian global.
“Indonesia
dipandang sebagai negara independen yang mampu menawarkan solusi damai dan
menjadi penengah dalam konflik internasional. Kepercayaan ini adalah modal
besar bagi diplomasi kemanusiaan dan perdamaian global yang diusung oleh bangsa
kita, terutama terhadap krisis yang terjadi di Timur Tengah,” ujar Menag, Kamis
(30/10/2025).
Dalam
kesempatan tersebut, Menag memperkenalkan konsep Ecotheology atau
ekoteologi, yakni pendekatan teologis yang menempatkan kasih sayang terhadap
seluruh ciptaan sebagai inti dari keberagamaan. Ia menjelaskan bahwa 80 persen
dari Asmaul Husna merepresentasikan sifat kasih sayang Allah, yang
seharusnya menjadi dasar bagi umat manusia dalam memperlakukan alam dan
sesamanya.
“Sayangnya, banyak perilaku manusia yang belum mencerminkan nilai kasih sayang, terutama dalam memperlakukan lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Melalui ekoteologi, kami ingin mentransformasikan pemahaman teologi agar lebih menunjukkan nilai-nilai kepedulian, keseimbangan, dan kasih sayang itu sendiri,” jelas Menag.

Selain
isu lingkungan, Menag juga menyoroti potensi besar pemberdayaan ekonomi umat
melalui pengelolaan dana ibadah rutin. Ia memaparkan bahwa potensi dana dari
kegiatan keagamaan seperti kurban, fidyah, kafarat, dan infak dapat mencapai
lebih dari Rp1.000 triliun per tahun jika dikelola secara terintegrasi.
“Pemerintah
di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan langkah strategis
dengan membentuk Lembaga Pemberdayaan Dana Umat (LPDU) yang akan berdiri
tahun depan di Jakarta. LPDU akan menjadi wadah pengelolaan dana umat untuk
kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Menag juga mengajak peserta konferensi untuk merefleksikan kejayaan peradaban Islam pada abad ke-6 hingga ke-13 Masehi, ketika ilmu pengetahuan dan spiritualitas berkembang pesat di pusat keilmuan Baitul Hikmah. “Kita dapat menciptakan Baitul Hikmah baru di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara, sebagai pusat peradaban Islam modern yang mengintegrasikan ilmu, spiritualitas, dan teknologi,” pungkasnya.

Ketua
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau,
Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., memberikan apresiasi terhadap gagasan yang
disampaikan Menteri Agama. Menurutnya, AICIS+ 2025 menjadi momentum penting
bagi dunia akademik Islam untuk memperluas kontribusi nyata dalam isu global,
terutama yang berkaitan dengan ekologi, ekonomi, dan kemanusiaan.
“Gagasan
ekoteologi dan pemberdayaan ekonomi umat yang disampaikan oleh Bapak Menteri
Agama merupakan arah strategis yang relevan bagi pengembangan keilmuan Islam
masa kini. Konsep tersebut menegaskan bahwa Islam adalah agama yang tidak hanya
berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan
keberlanjutan kehidupan,” ujarnya.
Lebih
lanjut, Dr. Faisal menilai bahwa AICIS+ 2025 mencerminkan wajah Islam yang
progresif dan berorientasi pada solusi. Ia berharap agar gagasan yang lahir
dari konferensi ini dapat diimplementasikan secara konkret dalam kebijakan
pendidikan Islam dan penelitian di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam
Negeri (PTKIN).
“AICIS+
bukan sekadar forum akademik, tetapi ruang kolaborasi global yang mempertemukan
ilmu, nilai, dan aksi nyata. STAIN SAR Kepri berkomitmen untuk terus mengambil
bagian dalam upaya mewujudkan Islam yang berkemajuan, berkeadilan, dan
berkelanjutan,” tutupnya. (LF)
Mahasiswi PAI STAIN SAR Kepri Raih Juara II Hifdzil 10 Juz pada MTQH Tingkat Kota Tanjungpinang 2026
Workshop Multimedia PBA STAIN SAR Kepri Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Digital
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN