السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ketua STAIN SAR Kepri Apresiasi Gagasan Menag tentang Ekoteologi dan Pemberdayaan Ekonomi Umat di AICIS+ 2025

  • 30 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 133
Berita Utama

Depok, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan gagasan strategis mengenai pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi umat dalam forum bergengsi Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025 yang digelar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, 29–31 Oktober 2025. Konferensi internasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI ini mengangkat tema besar “Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidisciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future.”

Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan akademisi dan peneliti dari dalam maupun luar negeri tersebut menjadi ruang kolaboratif untuk membahas isu-isu global seputar perdamaian, ekoteologi, serta pemberdayaan ekonomi umat dalam bingkai nilai-nilai Islam. Dalam sambutannya, Menag menekankan bahwa Indonesia kini dipercaya dunia sebagai negara dengan peran strategis dalam diplomasi kemanusiaan dan perdamaian global.

“Indonesia dipandang sebagai negara independen yang mampu menawarkan solusi damai dan menjadi penengah dalam konflik internasional. Kepercayaan ini adalah modal besar bagi diplomasi kemanusiaan dan perdamaian global yang diusung oleh bangsa kita, terutama terhadap krisis yang terjadi di Timur Tengah,” ujar Menag, Kamis (30/10/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Menag memperkenalkan konsep Ecotheology atau ekoteologi, yakni pendekatan teologis yang menempatkan kasih sayang terhadap seluruh ciptaan sebagai inti dari keberagamaan. Ia menjelaskan bahwa 80 persen dari Asmaul Husna merepresentasikan sifat kasih sayang Allah, yang seharusnya menjadi dasar bagi umat manusia dalam memperlakukan alam dan sesamanya.

“Sayangnya, banyak perilaku manusia yang belum mencerminkan nilai kasih sayang, terutama dalam memperlakukan lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Melalui ekoteologi, kami ingin mentransformasikan pemahaman teologi agar lebih menunjukkan nilai-nilai kepedulian, keseimbangan, dan kasih sayang itu sendiri,” jelas Menag.


Selain isu lingkungan, Menag juga menyoroti potensi besar pemberdayaan ekonomi umat melalui pengelolaan dana ibadah rutin. Ia memaparkan bahwa potensi dana dari kegiatan keagamaan seperti kurban, fidyah, kafarat, dan infak dapat mencapai lebih dari Rp1.000 triliun per tahun jika dikelola secara terintegrasi.

“Pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan langkah strategis dengan membentuk Lembaga Pemberdayaan Dana Umat (LPDU) yang akan berdiri tahun depan di Jakarta. LPDU akan menjadi wadah pengelolaan dana umat untuk kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Menag juga mengajak peserta konferensi untuk merefleksikan kejayaan peradaban Islam pada abad ke-6 hingga ke-13 Masehi, ketika ilmu pengetahuan dan spiritualitas berkembang pesat di pusat keilmuan Baitul Hikmah. “Kita dapat menciptakan Baitul Hikmah baru di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara, sebagai pusat peradaban Islam modern yang mengintegrasikan ilmu, spiritualitas, dan teknologi,” pungkasnya.


Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., memberikan apresiasi terhadap gagasan yang disampaikan Menteri Agama. Menurutnya, AICIS+ 2025 menjadi momentum penting bagi dunia akademik Islam untuk memperluas kontribusi nyata dalam isu global, terutama yang berkaitan dengan ekologi, ekonomi, dan kemanusiaan.

“Gagasan ekoteologi dan pemberdayaan ekonomi umat yang disampaikan oleh Bapak Menteri Agama merupakan arah strategis yang relevan bagi pengembangan keilmuan Islam masa kini. Konsep tersebut menegaskan bahwa Islam adalah agama yang tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan keberlanjutan kehidupan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dr. Faisal menilai bahwa AICIS+ 2025 mencerminkan wajah Islam yang progresif dan berorientasi pada solusi. Ia berharap agar gagasan yang lahir dari konferensi ini dapat diimplementasikan secara konkret dalam kebijakan pendidikan Islam dan penelitian di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

“AICIS+ bukan sekadar forum akademik, tetapi ruang kolaborasi global yang mempertemukan ilmu, nilai, dan aksi nyata. STAIN SAR Kepri berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam upaya mewujudkan Islam yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkelanjutan,” tutupnya. (LF)