السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mirta Yolanda: Kesehatan Mental Bukan Sekadar Bebas dari Gangguan, tapi Soal Kesejahteraan Jiwa

  • 30 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 163
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Kegiatan seminar bertajuk “Merawat Pikiran dan Menyehatkan Jiwa” yang digelar oleh Pusat Studi Gender, Anak, dan Keluarga di Auditorium Razali Jaya, salah satu narasumber dari Biro Psikologi My Psikologi, Mirta Yolanda, S.Psi., M.Psi., menyampaikan materi mengenai pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental dan upaya menjaga kesejahteraan psikologis.

Dalam pemaparannya, Yolanda menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan psikologis seseorang, di mana individu mampu mengelola emosi, mengatasi tekanan hidup, serta berfungsi secara produktif dalam kehidupan sehari-hari. “Kesehatan mental tidak sekadar terbebas dari gangguan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat merasa sejahtera dan berdaya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa merawat pikiran berarti menjaga keseimbangan antara aspek emosional, kognitif, dan sosial, sehingga seseorang dapat memiliki jiwa yang sehat. Menurutnya, kesehatan mental yang baik akan berdampak langsung terhadap produktivitas, hubungan sosial, serta kualitas hidup seseorang.

Selain penyampaian materi, kegiatan seminar juga diisi dengan skrining kesehatan mental bagi seluruh peserta. Melalui proses ini, peserta dapat mengenali kondisi psikologis mereka sejak dini sebagai langkah preventif terhadap gangguan mental.

Lebih lanjut, Yolanda memperkenalkan piramida kesehatan mental, yaitu model yang menggambarkan tingkatan kebutuhan dan intervensi dalam menjaga kesejahteraan psikologis. Pada lapisan dasar piramida terdapat pentingnya dukungan sosial dan lingkungan yang sehat, sedangkan lapisan tertinggi mencakup penanganan profesional bagi individu yang memerlukan pendampingan lebih lanjut.

“Dengan memahami piramida kesehatan mental, kita bisa menempatkan diri sesuai kebutuhan. Tidak semua masalah harus langsung ditangani oleh psikolog, namun penting untuk tahu kapan harus mencari bantuan,” jelasnya.

Yolanda juga menyoroti pengaruh perkembangan media sosial dan maraknya kasus cyberbullying terhadap kesehatan mental. Ia menjelaskan bahwa interaksi digital yang tidak sehat dapat menurunkan rasa percaya diri, meningkatkan kecemasan, bahkan memicu depresi, terutama pada kalangan remaja dan mahasiswa.

“Di era digital ini, tekanan sosial di media online sering kali lebih berat daripada di dunia nyata. Komentar negatif, perbandingan sosial, dan cyberbullying menjadi faktor yang memperburuk kondisi psikologis seseorang. Karena itu, penting bagi kita untuk membangun kesadaran digital dan menjaga kesehatan mental di dunia maya,” tambahnya.


Melalui sesi ini, peserta seminar diajak untuk lebih sadar bahwa merawat pikiran bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga perlu dukungan keluarga, lingkungan kampus, dan masyarakat. (Gby/Sarah)