السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berkiprah di Forum Ilmiah Internasional AICIS+ 2025, Dosen STAIN SAR Kepri Inisiasi Instrumen Kesadaran Ekoteologi Islam

  • 30 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 175
Berita Utama

Depok, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Dalam upaya memperkuat kontribusi akademik pada ranah internasional, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Zulfah, M.Pd., tampil sebagai presenter pada ajang ilmiah bergengsi Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, pada 29–31 Oktober 2025.

Konferensi internasional ini mengusung tema besar “Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidisciplinary Innovation for a Just and Sustainable Future” dan diikuti oleh ribuan akademisi, peneliti, serta praktisi dari berbagai negara. Dari total lebih dari 2.400 abstrak yang masuk dari 31 negara, hanya 230 karya ilmiah yang terpilih untuk dipresentasikan, termasuk penelitian yang diangkat oleh dosen STAIN SAR Kepri.

Dalam kesempatan tersebut, Zulfah memaparkan hasil risetnya yang berjudul “Measuring Spiritual and Environmental Harmony: Developing an Ecotheological Awareness Questionnaire Instrument Based on Fazlun Khalid’s Thoughts.” Penelitian ini mengangkat isu strategis tentang pengembangan instrumen pengukuran kesadaran ekoteologis berbasis pemikiran ekologis Islam, sebagai upaya membangun kesadaran spiritual terhadap lingkungan hidup.


Menurut Zulfah, krisis ekologi global dewasa ini tidak hanya disebabkan oleh faktor lingkungan, tetapi juga oleh krisis spiritual manusia yang kehilangan kesadaran akan posisinya sebagai khalifah di bumi.

“Islam tidak hanya menegaskan keesaan Tuhan, tetapi juga kesatuan seluruh ciptaan. Maka, kesadaran ekoteologis adalah refleksi dari tauhid itu sendiri,” ujarnya dalam sesi presentasi.

Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen pengukuran kesadaran ekoteologis yang valid dan reliabel dengan mengadaptasi pemikiran Fazlun Khalid, pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES) di Inggris. Instrumen tersebut mengintegrasikan nilai-nilai Tauhid, Fitrah, Mizan, dan Khalifah dalam kerangka pengukuran literasi ekologi yang selama ini banyak dipengaruhi oleh teori Barat seperti New Environmental Paradigm (NEP) dan Environmental Attitude Inventory (EAI).

Dengan menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) model MEASURE (Kalkbrenner, 2021), penelitian ini mengembangkan 40 butir pernyataan berskala Likert lima poin yang diuji kepada 150 mahasiswa PTKIN. Hasil validasi oleh tujuh pakar teologi Islam dan ekologi menunjukkan nilai Aiken’s V sebesar 0,9333, yang menandakan tingkat kesahihan sangat tinggi. Analisis reliabilitas menghasilkan Cronbach’s Alpha sebesar 0,717, dengan 12 faktor utama yang menjelaskan lebih dari 50% variansi data, menunjukkan bahwa kesadaran ekoteologis bersifat multidimensi.


Zulfah menegaskan bahwa hasil riset ini dapat menjadi instrumen efektif dalam mengukur integrasi nilai spiritual dan ekologis di lingkungan pendidikan Islam. Ia juga merekomendasikan agar penelitian lanjutan memperluas konteks antaruniversitas dan menggunakan analisis lanjutan seperti Confirmatory Factor Analysis (CFA) atau Structural Equation Modeling (SEM) untuk memperkuat validitas konstruk.

“Kesadaran ekoteologis harus ditumbuhkan sejak dini, terutama di lingkungan akademik Islam, karena menjaga bumi adalah bagian dari ibadah,” tegasnya menutup presentasi dengan ajakan inspiratif, “Let’s be Earth’s Superheroes!”

Partisipasi dosen STAIN SAR Kepri dalam AICIS+ 2025 ini menjadi bukti nyata kiprah kampus dalam forum akademik internasional. Selain memperkuat reputasi kelembagaan, keikutsertaan tersebut juga menegaskan komitmen STAIN SAR Kepri dalam mengembangkan riset multidisipliner yang mengintegrasikan nilai Islam, ekologi, dan kemanusiaan menuju masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan. (LF/Gby)