السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dosen STAIN SAR Kepri Angkat Isu Literasi Lingkungan dalam Buku Teks Bahasa Inggris di Forum Internasional AICIS+ 2025

  • 30 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 131
Berita Utama

Depok, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Dalam upaya memperkuat kontribusi akademik pada ranah internasional, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau sekaligus Plt. Ketua Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam, Dr. Fadhila Yonata, M.Pd., tampil sebagai presenter pada Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) Tahun 2025.

Kegiatan berskala internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia ini berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada 29–31 Oktober 2025, dengan mengusung tema besar “Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidisciplinary Innovation for a Just and Sustainable Future.”

AICIS+ merupakan forum ilmiah bergengsi yang mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan isu-isu kontemporer di bidang Islam, sains, dan masyarakat. Tahun ini, panitia menerima lebih dari 2.400 abstrak dari 31 negara, namun hanya 230 di antaranya yang terpilih untuk dipresentasikan, termasuk penelitian yang diangkat oleh dosen STAIN SAR Kepri.

Dalam sesi presentasinya berjudul “Beyond the Visuals: Examining Environmental Literacy in Indonesian Elementary English Textbooks,” Dr. Fadhil mengkaji representasi nilai-nilai literasi lingkungan (environmental literacy) dalam buku teks Bahasa Inggris tingkat sekolah dasar di Indonesia. Melalui pendekatan Visual Grammar Analysis (Kress & van Leeuwen, 2020), penelitian ini menganalisis makna representasional, interaktif, dan komposisional dari ilustrasi dalam buku “English for Nusantara Kids” untuk mengungkap bagaimana ideologi ekologis tersirat dalam visual pembelajaran.


Dr. Fadhil menjelaskan bahwa kurikulum Bahasa Inggris di Indonesia kini telah mengadopsi pendekatan picture-based learning, yang menempatkan elemen visual sebagai media utama dalam pembentukan pemahaman siswa. Namun, kajian terhadap dimensi visual dalam menanamkan kesadaran ekologis masih sangat terbatas.

“Visual bukan sekadar pendukung teks, melainkan jendela nilai yang membentuk cara pandang siswa terhadap dunia dan lingkungan,” ujarnya saat mempresentasikan hasil riset pada Rabu (29/10/2025).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar visual dalam buku teks masih merepresentasikan alam secara antropocentris, di mana manusia menjadi pusat narasi dan lingkungan hanya hadir sebagai latar. Representasi tersebut mencerminkan bentuk shallow environmentalism, yaitu kesadaran ekologis yang bersifat permukaan, menonjolkan keindahan alam tanpa mendorong tindakan nyata terhadap pelestarian lingkungan.

“Untuk membangun kesadaran ekologis sejati, dibutuhkan pendekatan yang ekosentris, menempatkan alam sebagai bagian integral dari kehidupan manusia dan pembelajaran,” tegas Dr. Fadhil.


Ia juga merekomendasikan agar guru dan penulis buku teks memperhatikan “kurikulum tersembunyi (hidden curriculum)” dalam elemen visual, serta memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan ilustrasi edukatif yang lebih bermakna dan kontekstual.

Dalam konteks kurikulum nasional terbaru tahun 2025, Bahasa Inggris telah ditetapkan sebagai mata pelajaran inti yang diajarkan mulai dari kelas tiga sekolah dasar. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, siswa usia 8–10 tahun berada pada tahap operasional konkret sehingga membutuhkan representasi visual untuk menginternalisasi pengetahuan. Dengan demikian, gambar dalam buku teks tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu linguistik, tetapi juga sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai sosial dan ekologis yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap evaluasi kualitas visual dalam buku teks pendidikan dasar, khususnya dalam mengukur potensinya dalam menumbuhkan literasi lingkungan di kalangan siswa. Melalui keikutsertaan pada AICIS+ 2025, STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menegaskan kiprah dosennya dalam riset multidisipliner yang berpihak pada keberlanjutan, keislaman, dan kemanusiaan. (LF/Gby)