السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Nasaruddin Umar Layak Diusulkan Sebagai Penerima Nobel Perdamaian

  • 28 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 138
Berita Utama

Jakarta, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Nama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., semakin berkibar di kancah internasional sebagai tokoh lintas agama yang berpengaruh dalam membangun jembatan perdamaian global. Kiprahnya yang melintasi batas agama, bangsa, dan budaya menjadikannya sosok yang dinilai layak diusulkan sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian, penghargaan tertinggi bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya bagi kemanusiaan dan harmoni dunia.

Sebagai cendekiawan Muslim global, Nasaruddin Umar konsisten menempatkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dalam konteks peradaban modern. Gagasannya tentang Islam yang moderat, ramah, dan terbuka terhadap dialog terus digaungkan melalui berbagai forum internasional, termasuk di Vatikan, Universitas Al-Azhar Mesir, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia dikenal bukan sekadar berbicara soal toleransi, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata dan persahabatan spiritual lintas iman.

Sebagai tokoh lintas agama dunia, Nasaruddin Umar kerap diundang dalam berbagai pertemuan pemimpin agama sedunia, termasuk dalam Forum Daring Peace di Vatikan yang diselenggarakan Komunitas Sant’Egidio. Di hadapan para kardinal, uskup, dan imam besar dunia, ia menegaskan bahwa “persaudaraan tidak mengenal batas agama.” Sikap rendah hati dan penuh kasih yang ia tunjukkan termasuk dalam pertemuannya dengan Paus Fransiskus menjadi simbol konkret bahwa kemanusiaan mampu mengatasi sekat teologis.


Sebagai intelektual global, Nasaruddin Umar juga dikenal lewat karya akademiknya yang mendalam. Buku-bukunya mengenai tafsir, gender, dan perdamaian menjadi rujukan di berbagai universitas dunia. Dalam kapasitasnya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, ia menjadikan masjid kebanggaan bangsa tersebut sebagai pusat peradaban inklusif tempat pertemuan pemimpin lintas iman, diplomat, dan akademisi dari seluruh dunia.

Salah satu kiprah monumental Nasaruddin Umar adalah keberhasilannya menginisiasi Deklarasi Istiqlal pada kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia tahun 2024. Deklarasi tersebut menandai kesepahaman antaragama di Indonesia sebagai model harmoni dunia. Upaya ini menjadi tonggak penting diplomasi spiritual Indonesia yang mendapat pengakuan internasional.

Dalam setiap pemikirannya, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama harus menjadi energi perdamaian, bukan sumber konflik. Menurutnya, dunia tidak memerlukan dominasi satu agama, tetapi membutuhkan sinergi spiritual untuk memperkuat kemanusiaan universal.

Dukungan atas kiprah dan dedikasi Nasaruddin Umar datang dari berbagai kalangan, termasuk dunia akademik. Ketua STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., menyatakan bahwa kiprah Nasaruddin Umar merupakan inspirasi bagi seluruh umat beragama.

“Kami meyakini bahwa Prof. Dr. Nasaruddin Umar adalah teladan nyata dalam membangun dialog antariman dan perdamaian global. Penghargaan seperti Nobel Perdamaian akan menjadi pengakuan yang pantas atas dedikasi beliau, sekaligus menjadi inspirasi bagi dunia Islam dan seluruh umat manusia yang mendambakan harmoni,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia turut memberikan dukungan moral bagi upaya pengakuan internasional terhadap tokoh-tokoh yang memperjuangkan moderasi dan kemanusiaan.


Dengan seluruh kiprahnya, Prof. Dr. Nasaruddin Umar tidak hanya dikenal sebagai sosok religius, tetapi juga diplomat moral yang menyuarakan kedamaian dari Timur untuk dunia. Dari Jakarta hingga Vatikan, dari Al-Azhar hingga New York, pesan yang dibawanya tetap sama: cinta kasih, persaudaraan, dan kemanusiaan adalah bahasa universal umat manusia. (Gby/LF)