السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Dalam upaya memperkuat integrasi nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melalui Rumah Moderasi Beragama (RMB) menyelenggarakan Lokakarya Kolaboratif Penguatan RPS dan Tim Teaching Mata Kuliah Studi Islam dan Moderasi Beragama dengan tema “Kurikulum Cinta dan Moderasi Beragama”.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Pusat Haji Terpadu Kemenag
Kabupaten Bintan ini menghadirkan Prof. H. Arif Zamhari, M.Ag., Ph.D., Guru
Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Rumah Moderasi Beragama
se-PTKI, sebagai narasumber utama. Lokakarya ini diikuti oleh para dosen STAIN
SAR Kepri, dan turut dihadiri oleh Wakil Ketua I STAIN SAR Kepri, Aris
Bintania, M.Ag., Kepala RMB, Zulfa Hudiyani, M.A., serta Kepala Pusat
Penjaminan Mutu (P2M), Dr. M. Taufiq, M.S.I.
Dalam sambutannya, Kepala Rumah Moderasi Beragama
STAIN SAR Kepri, Zulfa Hudiyani, M.A., menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal
dari kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia yang menargetkan
implementasi kurikulum berbasis cinta dan moderasi beragama di seluruh PTKIN.
“Melalui lokakarya ini, kita bersama-sama memahami
secara mendalam konsep kurikulum cinta, yang nantinya akan
diintegrasikan dalam setiap mata kuliah, khususnya pada dimensi moderasi
beragama,” ungkap Zulfa.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber dan seluruh peserta yang aktif berpartisipasi sejak tahap pra-kegiatan hingga penutupan acara.


Sementara itu, Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN SAR
Kepri, Dr. M. Taufiq, M.S.I., menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam
penguatan sistem pembelajaran.
“Sebagai lembaga penjamin mutu, kami sangat mendukung
kegiatan ini karena mampu menciptakan sinergi positif dalam penyusunan
rancangan mata kuliah yang terintegrasi dengan studi Islam dan moderasi
beragama,” ujarnya.
Dr. Taufiq juga berharap sesi diskusi dapat
menghasilkan penyempurnaan terhadap rancangan dokumen kurikulum sehingga dapat
tersusun dengan sempurna dan implementatif.
Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Ketua I STAIN SAR
Kepri, Aris Bintania, M.Ag., memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan
kegiatan ini.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari target capaian strategis Kementerian Agama yang menekankan pentingnya penguatan kurikulum moderasi beragama di seluruh PTKIN. Harapannya, melalui kegiatan ini akan lahir RPS yang sesuai dengan kebutuhan akademik dan mampu menjawab tantangan penyusunan RPS berbasis nilai moderasi,” tuturnya.


Sebagai simbol pembukaan kegiatan, Aris Bintania turut
melakukan penyematan tanjak, yang bermakna peneguhan semangat kebudayaan Melayu
dalam bingkai keislaman dan kebangsaan.
Dalam pemaparannya, Prof. Arif Zamhari menekankan
pentingnya keseimbangan antara integrasi nilai moderasi beragama dan pencapaian
Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).
“Integrasi nilai moderasi beragama harus dilakukan
secara proporsional tanpa menghilangkan komponen inti CPL itu sendiri,”
jelasnya.
Beliau
juga memperkenalkan konsep “Kurikulum Cinta” yang berlandaskan pada lima pilar
utama, yakni cinta kepada Allah dan Rasul, cinta terhadap ilmu, cinta terhadap
lingkungan, cinta terhadap diri dan sesama manusia, serta cinta terhadap tanah
air. Konsep ini, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun karakter
moderat dan berkeadaban, sekaligus meneguhkan nilai-nilai spiritual,
intelektual, dan kebangsaan dalam proses pembelajaran di lingkungan perguruan
tinggi keagamaan.
“Jangan sampai pencirian studi Islam hilang. Justru
nilai-nilai moderasi perlu diberikan pada mata kuliah di semester awal, baik
mata kuliah umum maupun wajib universitas,” tegas Prof. Arif.
Ia juga menyinggung pentingnya ecotheology
sebagai bagian dari penguatan kurikulum berbasis cinta lingkungan, yang menjadi
salah satu bentuk nyata integrasi spiritualitas, ilmu pengetahuan, dan tanggung
jawab ekologis.
Dalam sesi diskusi, peserta mengidentifikasi perlunya penyusunan mata kuliah dengan CPL yang bersifat umum agar dapat menjadi dasar integrasi nilai moderasi beragama di berbagai program studi. Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah melakukan penyortiran terhadap mata kuliah di semester awal yang memiliki keserupaan tema untuk diformulasikan menjadi CPL umum.


Menutup kegiatan, Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H.
Muhammad Faisal, M.Ag., menyampaikan refleksi mendalam tentang relevansi konsep
kurikulum cinta dan moderasi beragama dengan konteks pengembangan
kampus. Ia menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai tersebut harus diimbangi
dengan strategi pengembangan kelembagaan yang adaptif terhadap tantangan
lingkungan dan regulasi.
Dalam penjelasannya, beliau menyinggung tentang
keterbatasan lahan kampus di wilayah Kepulauan Riau yang sebagian besar
merupakan kawasan konservasi.
“Kita harus kreatif dalam mengembangkan kampus di
tengah keterbatasan ruang dan regulasi, dengan tetap menjunjung prinsip
keberlanjutan dan kemanfaatan,” tuturnya.
Beliau juga menegaskan pentingnya ecotheology
sebagai landasan berpikir dalam mengembangkan kampus hijau dan berwawasan
lingkungan.
“Konsep ekoteologi yang disampaikan Prof. Arif sangat
relevan. Kita perlu membumikan nilai-nilai itu dalam konteks pembangunan kampus
dan kurikulum kita,” tambahnya.
Kegiatan ditutup dengan refleksi dan penyusunan tindak
lanjut hasil diskusi. Lokakarya ini tidak hanya menjadi ruang akademik untuk
memperkuat Rencana Pembelajaran Semester (RPS), tetapi juga sebagai
langkah strategis STAIN SAR Kepri dalam membumikan nilai “Kurikulum Cinta” dan Moderasi
Beragama di setiap aspek pembelajaran. (LF/DHL)
Mahasiswi PAI STAIN SAR Kepri Raih Juara II Hifdzil 10 Juz pada MTQH Tingkat Kota Tanjungpinang 2026
Workshop Multimedia PBA STAIN SAR Kepri Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Digital
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN