السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

STAIN SAR Kepri Perkuat Integrasi Moderasi Beragama melalui Lokakarya Kurikulum Cinta bersama Prof. Arif Zamhari

  • 25 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 118
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan IlmuDalam upaya memperkuat integrasi nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melalui Rumah Moderasi Beragama (RMB) menyelenggarakan Lokakarya Kolaboratif Penguatan RPS dan Tim Teaching Mata Kuliah Studi Islam dan Moderasi Beragama dengan tema “Kurikulum Cinta dan Moderasi Beragama”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pusat Haji Terpadu Kemenag Kabupaten Bintan ini menghadirkan Prof. H. Arif Zamhari, M.Ag., Ph.D., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Rumah Moderasi Beragama se-PTKI, sebagai narasumber utama. Lokakarya ini diikuti oleh para dosen STAIN SAR Kepri, dan turut dihadiri oleh Wakil Ketua I STAIN SAR Kepri, Aris Bintania, M.Ag., Kepala RMB, Zulfa Hudiyani, M.A., serta Kepala Pusat Penjaminan Mutu (P2M), Dr. M. Taufiq, M.S.I.

Dalam sambutannya, Kepala Rumah Moderasi Beragama STAIN SAR Kepri, Zulfa Hudiyani, M.A., menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia yang menargetkan implementasi kurikulum berbasis cinta dan moderasi beragama di seluruh PTKIN.

“Melalui lokakarya ini, kita bersama-sama memahami secara mendalam konsep kurikulum cinta, yang nantinya akan diintegrasikan dalam setiap mata kuliah, khususnya pada dimensi moderasi beragama,” ungkap Zulfa.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber dan seluruh peserta yang aktif berpartisipasi sejak tahap pra-kegiatan hingga penutupan acara.


Sementara itu, Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN SAR Kepri, Dr. M. Taufiq, M.S.I., menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam penguatan sistem pembelajaran.

“Sebagai lembaga penjamin mutu, kami sangat mendukung kegiatan ini karena mampu menciptakan sinergi positif dalam penyusunan rancangan mata kuliah yang terintegrasi dengan studi Islam dan moderasi beragama,” ujarnya.

Dr. Taufiq juga berharap sesi diskusi dapat menghasilkan penyempurnaan terhadap rancangan dokumen kurikulum sehingga dapat tersusun dengan sempurna dan implementatif.

Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Ketua I STAIN SAR Kepri, Aris Bintania, M.Ag., memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan ini.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari target capaian strategis Kementerian Agama yang menekankan pentingnya penguatan kurikulum moderasi beragama di seluruh PTKIN. Harapannya, melalui kegiatan ini akan lahir RPS yang sesuai dengan kebutuhan akademik dan mampu menjawab tantangan penyusunan RPS berbasis nilai moderasi,” tuturnya.


Sebagai simbol pembukaan kegiatan, Aris Bintania turut melakukan penyematan tanjak, yang bermakna peneguhan semangat kebudayaan Melayu dalam bingkai keislaman dan kebangsaan.

Dalam pemaparannya, Prof. Arif Zamhari menekankan pentingnya keseimbangan antara integrasi nilai moderasi beragama dan pencapaian Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).

“Integrasi nilai moderasi beragama harus dilakukan secara proporsional tanpa menghilangkan komponen inti CPL itu sendiri,” jelasnya.

Beliau juga memperkenalkan konsep “Kurikulum Cinta” yang berlandaskan pada lima pilar utama, yakni cinta kepada Allah dan Rasul, cinta terhadap ilmu, cinta terhadap lingkungan, cinta terhadap diri dan sesama manusia, serta cinta terhadap tanah air. Konsep ini, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun karakter moderat dan berkeadaban, sekaligus meneguhkan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan kebangsaan dalam proses pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi keagamaan.

“Jangan sampai pencirian studi Islam hilang. Justru nilai-nilai moderasi perlu diberikan pada mata kuliah di semester awal, baik mata kuliah umum maupun wajib universitas,” tegas Prof. Arif.

Ia juga menyinggung pentingnya ecotheology sebagai bagian dari penguatan kurikulum berbasis cinta lingkungan, yang menjadi salah satu bentuk nyata integrasi spiritualitas, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab ekologis.

Dalam sesi diskusi, peserta mengidentifikasi perlunya penyusunan mata kuliah dengan CPL yang bersifat umum agar dapat menjadi dasar integrasi nilai moderasi beragama di berbagai program studi. Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah melakukan penyortiran terhadap mata kuliah di semester awal yang memiliki keserupaan tema untuk diformulasikan menjadi CPL umum.


Menutup kegiatan, Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., menyampaikan refleksi mendalam tentang relevansi konsep kurikulum cinta dan moderasi beragama dengan konteks pengembangan kampus. Ia menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai tersebut harus diimbangi dengan strategi pengembangan kelembagaan yang adaptif terhadap tantangan lingkungan dan regulasi.

Dalam penjelasannya, beliau menyinggung tentang keterbatasan lahan kampus di wilayah Kepulauan Riau yang sebagian besar merupakan kawasan konservasi.

“Kita harus kreatif dalam mengembangkan kampus di tengah keterbatasan ruang dan regulasi, dengan tetap menjunjung prinsip keberlanjutan dan kemanfaatan,” tuturnya.

Beliau juga menegaskan pentingnya ecotheology sebagai landasan berpikir dalam mengembangkan kampus hijau dan berwawasan lingkungan.

“Konsep ekoteologi yang disampaikan Prof. Arif sangat relevan. Kita perlu membumikan nilai-nilai itu dalam konteks pembangunan kampus dan kurikulum kita,” tambahnya.

Kegiatan ditutup dengan refleksi dan penyusunan tindak lanjut hasil diskusi. Lokakarya ini tidak hanya menjadi ruang akademik untuk memperkuat Rencana Pembelajaran Semester (RPS), tetapi juga sebagai langkah strategis STAIN SAR Kepri dalam membumikan nilai “Kurikulum Cinta” dan Moderasi Beragama di setiap aspek pembelajaran. (LF/DHL)