السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Aswandi Syahri: Zaman Sultan Abdurrahman, Kerajaan Riau-Lingga Alami Modernisasi Budaya dan Politik

  • 21 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 113
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu – Peneliti budaya dan sejarawan dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau, Aswandi Syahri, S.S., memaparkan bahwa masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah II merupakan periode penting yang memperlihatkan adanya pembangkangan halus Kerajaan Riau-Lingga terhadap dominasi kolonial Belanda, sekaligus fase awal modernisasi sosial dan budaya di wilayah Melayu.

Dalam paparannya pada Seminar Sejarah Sultan Abdurrahman di STAIN Kepri, Aswandi menjelaskan bahwa kehidupan sosial-politik pada masa itu sangat kompleks dan tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Tindakan pembangkangan terhadap Belanda tidak selalu dilakukan secara frontal, namun juga dalam bentuk diplomasi budaya dan pergeseran gaya hidup bangsawan.

"Zaman Sultan Abdurrahman adalah masa yang sarat simbolisme. Tidak semua bentuk perlawanan tampak di permukaan. Pembangkangan juga terwujud dalam sikap mempertahankan identitas, meskipun pengaruh Barat mulai masuk lewat teknologi, pakaian, hingga arsitektur," ujar Aswandi.

Ia menjelaskan bahwa alat komunikasi dan cara berbusana masyarakat kerajaan saat itu sudah menunjukkan unsur modern. Busana kerajaan mulai mengadopsi gaya Eropa, termasuk pakaian bangsawan yang menggabungkan unsur Melayu dan potongan ala Belanda. Hal ini terlihat pula dari arsitektur istana yang mulai bergaya modern, dengan elemen desain khas kolonial namun tetap bernafaskan Melayu.

Lebih lanjut, Aswandi menyoroti bagaimana kesenian berkembang di masa Sultan Abdurrahman. Salah satunya adalah teater tradisional Makyong, yang menjadi ruang ekspresi kreatif para bangsawan, termasuk tokoh seni seperti Bangsawa Tuanku. Di masa itu pula, muncul kelompok musik brass band yang tampil dalam berbagai acara kerajaan.

"Sultan sangat mendukung kesenian sebagai bagian dari perlawanan budaya. Bahkan tersedia kapal khusus bernama Kapal Pisang Emas yang digunakan komunitas Makyong untuk tampil dari satu pulau ke pulau lainnya, termasuk dalam acara kebudayaan istana," ungkap Aswandi.

Ia menambahkan, perkembangan budaya ini tidak hanya menunjukkan adaptasi terhadap zaman, tetapi juga strategi mempertahankan jati diri Melayu melalui jalur seni dan simbolisme sosial.


Aswandi menekankan pentingnya merekonstruksi kembali narasi sejarah Sultan Abdurrahman sebagai bagian dari perjuangan kultural yang cerdas dan bermartabat. Menurutnya, sejarah bukan hanya tentang peperangan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah bangsa bertahan melalui budaya. (Gby/Tegar)