السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Cegah Degradasi Moral Mahasiswa, Hima KIP STAIN SAR Kepri Gaungkan Kesadaran Melalui Seminar “Mewaspadai Bahaya Pergaulan Bebas”

  • 06 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 272
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Himpunan Mahasiswa KIP Kuliah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menggelar seminar bertajuk “Mengenal Batas, Menjaga Martabat!” dengan tema “Mewaspadai Bahaya Pergaulan Bebas” pada Senin, 6 Oktober 2025 di Auditorium Razali Jaya STAIN SAR Kepri.

Kegiatan ini diikuti oleh 255 mahasiswa penerima KIP Kuliah angkatan 2023 dan 2024 serta perwakilan dari seluruh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) STAIN SAR Kepri.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga perilaku, komitmen, dan disiplin diri di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Menurutnya, pergaulan bebas menjadi ancaman serius bagi generasi muda, terutama di era digital yang sarat dengan pengaruh negatif media sosial.

“Kita semua harus saling mengingatkan dan menjaga satu sama lain. Mahasiswa KIP Kuliah adalah keluarga besar STAIN SAR Kepri yang diharapkan menjadi teladan, bukan hanya dalam prestasi akademik, tetapi juga dalam akhlak dan perilaku sehari-hari,” ungkapnya.


Beliau juga mengingatkan bahwa kemudahan akses teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal produktif, seperti pengembangan keilmuan dan peningkatan kompetensi diri, bukan untuk hal yang dapat menjauhkan mahasiswa dari nilai-nilai moral dan spiritual.

“Gunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal positif. Jadikan diri kalian agen perubahan yang membawa kebaikan, bukan korban dari pengaruh negatif zaman,” tegasnya.

Kegiatan seminar menghadirkan Ustaz Fajar Tresna Utama, M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) STAIN SAR Kepri, sebagai narasumber utama. Dalam materinya, beliau memaparkan bahwa pergaulan bebas bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga menyangkut moralitas, psikologi, dan spiritualitas seorang muslim.


“Pergaulan bebas adalah salah satu bentuk penyimpangan yang dapat menghancurkan martabat manusia. Islam mengajarkan kita untuk menjauhi segala hal yang mendekati zina, bukan hanya perbuatannya saja,” jelasnya.

Ustaz Fajar menambahkan, Al-Qur’an dan hadis secara tegas memberikan peringatan akan bahaya zina, bahkan sejak tahap pandangan, ucapan, hingga keinginan hati. Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:

“Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina yang akan dialaminya. Zina kedua mata adalah melihat, zina mulut adalah berkata, dan zina hati adalah berkeinginan, sedangkan alat kelamin membuktikannya atau mendustakannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud).


Selain aspek spiritual, beliau juga menyoroti dampak psikologis dari perilaku pergaulan bebas, seperti rasa bersalah, kehilangan arah hidup, hingga gangguan mental. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk menanamkan kesadaran diri, menjaga batas pergaulan, dan membangun hubungan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

“Kalau cinta, jagalah sampai halal. Penyesalan selalu datang belakangan, karena kalau di depan namanya pendaftaran,” ujarnya disambut tawa ringan peserta seminar.

Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana mahasiswa aktif berdiskusi mengenai fenomena pergaulan bebas di lingkungan kampus dan masyarakat. Kegiatan ini menjadi momentum reflektif bagi mahasiswa untuk meneguhkan kembali komitmen menjaga kehormatan diri dan martabat sebagai insan akademik muslim. (LF/Gby)