السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Membangun Karakter dan Identitas Budaya Melayu, Unit Studi Melayu STAIN SAR Kepri Gelar Pelatihan Adat Makan Sehidang Berlima

  • 23 September 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 122
Berita Utama

Tanjungpinang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu – Unit Studi Melayu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau mendapat kehormatan menjadi salah satu penerima program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV. Melalui program ini, Unit Studi Melayu menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Tata Cara dan Adat Istiadat Penyajian Makan Sehidang Berlima sebagai Upaya Pelestarian Budaya Melayu di Kepulauan Riau” pada 21 dan 23 September 2025 di Balairung LAM Kepri, Kota Tanjungpinang.

Kegiatan yang mengusung tema “Makan Sehidang Berlima: Ibadah dan Budaya dalam Satu Talam Keberkahan” ini menghadirkan tiga narasumber terkemuka, yakni Dato’ Seri Setia Utama H. Raja Al Hafiz (Ketua LAM Provinsi Kepulauan Riau), Dato’ Wira Setia Utama Dr. Dra. Raja Suzana Fitri, M.Pd. (Widyaiswara Ahli Muda), serta Dato’ Setia Laksana Dr. Drs. Almahfuz, M.Si. (akademisi sekaligus Waka II STAIN SAR Kepri).


Menurut Kepala Unit Studi Melayu STAIN SAR Kepri, Romi Aqmal, M.Si., kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi dalam menjaga warisan budaya lokal.

“Tradisi makan sehidang berlima tidak sekadar ritual, tetapi mengandung filosofi mendalam tentang kebersamaan, kesopanan, dan adab dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pelatihan ini, kami berupaya melestarikan nilai-nilai tersebut agar tetap hidup di tengah generasi muda,” ungkapnya.

Kegiatan ini bertujuan melestarikan tradisi makan sehidang berlima, memperkenalkan filosofi dan tata cara adat Melayu, serta meningkatkan keterampilan peserta dalam menerapkan tata krama adat pada acara resmi. Lebih jauh, pelatihan ini juga diharapkan memperkuat pendidikan karakter berbasis agama dan adat, mencegah degradasi moral akibat budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai lokal, serta membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kuliner dan wisata budaya.


Sebanyak 30 mahasiswa dari sembilan perguruan tinggi di Kota Tanjungpinang berpartisipasi dalam pelatihan ini, di antaranya: Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), STAIN SAR Kepri, STISIPOL Raja Haji, STIE Pembangunan, STIKES Hang Tuah, STTI Tanjungpinang, IAI Miftahun Ulum, Akbid Anugerah Bintan, dan Politeknik Kemenkes.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menguatkan identitas budaya Melayu sekaligus menumbuhkan kebanggaan sebagai generasi penerus yang menjaga warisan leluhur. Tradisi makan sehidang berlima juga menjadi sarana pembentukan karakter religius dan sosial melalui penerapan adab makan bersama, sikap syukur, tawadhu, serta rasa hormat kepada sesama. Dengan keterlibatan aktif, generasi muda diharapkan terhindar dari pengaruh negatif budaya luar dan diarahkan pada aktivitas positif berbasis kearifan lokal. Lebih dari itu, kegiatan ini mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin adat pada acara resmi sekaligus membuka peluang lahirnya ekonomi kreatif yang autentik.


Melalui kegiatan ini, STAIN SAR Kepri menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berakar pada nilai keislaman dan budaya Melayu. Pelatihan adat makan sehidang berlima bukan hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menghadirkan integrasi antara akademisi, budaya, dan masyarakat dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berkarakter, kontekstual, serta berdaya saing.(LF/RA)