السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dosen STAIN SAR Kepri Jadi Narasumber Internasional, Soroti Peran Strategis Kepri dalam Jejak Peradaban Maritim

  • 18 Juni 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 137
Berita Utama

Tanjungpinang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau (STAIN SAR Kepri) kembali menunjukkan kontribusi akademik pada tingkat internasional melalui keikutsertaan salah satu dosennya, Dr. (Cand.) Syahrul Rahmat, M.Hum., sebagai narasumber dalam webinar bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng). Webinar ini dilaksanakan secara daring pada Rabu, 18 Juni 2025, dalam rangka memperingati Hari Purbakala ke-112, dengan tema “Maritime & Underwater Archaeology: Jejak Peradaban Maritim di Kepulauan Riau.”

Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber yang berasal dari institusi dalam dan luar negeri, yaitu Prof. Dr. Wendy van Duivenvoorde dan Dr. Martin Polkinghorne dari Flinders University Australia, Nia Naelul Hasanah Ridwan, M.Sc. dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, serta Dr. (Cand.) Syahrul Rahmat, M.Hum. dari Prodi Sejarah Peradaban Islam STAIN SAR Kepri.

Dalam pemaparannya, Dr. (Cand.) Syahrul Rahmat menyoroti peran penting Kepulauan Riau sebagai pusat aktivitas perdagangan internasional sejak masa lampau. Berdasarkan kajian sejarah dan tinggalan arkeologis, wilayah ini telah menjadi jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan antarbenua sejak beberapa abad sebelum masehi. Menurutnya, keberadaan bangkai kapal karam atau shipwrecks di perairan Kepri menjadi bukti empiris yang memperkuat narasi arsip tentang keterlibatan aktif wilayah ini dalam jejaring perdagangan global.

“Riwayat panjang pelayaran di Kepulauan Riau tidak hanya tercatat dalam sumber dokumen kolonial atau catatan perjalanan, tetapi juga tersimpan dalam tinggalan arkeologis di bawah laut yang kini menjadi fokus kajian arkeologi maritim,” ujar Syahrul dalam forum tersebut.

Pemaparan ini tidak hanya menegaskan peran strategis Kepri dalam sejarah maritim, tetapi juga memperkuat urgensi perlindungan terhadap situs-situs tinggalan bawah air di wilayah ini.


Sementara itu, narasumber lainnya, seperti Nia Naelul Hasanah Ridwan, M.Sc., menjelaskan bahwa Kepulauan Riau menyimpan kekayaan tinggalan bawah air yang sangat signifikan, di antaranya adalah kapal perang Jepang dari era Perang Dunia II, hingga kapal Geldermalsen milik VOC yang tenggelam di perairan Karang Heliputan, Bintan Timur. Kapal tersebut menjadi perhatian internasional sejak penyelaman ilegal oleh Michael Hatcher pada 1985 yang menghasilkan 160.000 artefak keramik dan 126 batang emas yang kemudian dilelang senilai jutaan dolar.

Webinar yang dimoderatori oleh IAAI Komda Sumbagteng ini juga dibuka oleh Ketua IAAI Sumbagteng, Romi Hidayat, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari seri webinar yang terdiri dari tiga rangkaian, dengan fokus pada kajian arkeologi maritim di kawasan Sumatera. Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi IAAI dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III dan IV, serta dukungan dari Flinders University Australia.

Partisipasi aktif STAIN SAR Kepri dalam forum ilmiah internasional ini merupakan bagian dari implementasi visi kampus sebagai pusat pengembangan ilmu keislaman dan sosial-budaya yang kontekstual. Kehadiran dosen STAIN SAR Kepri sebagai narasumber juga menegaskan komitmen institusi dalam memajukan keilmuan berbasis sejarah lokal yang terintegrasi dengan kajian global.

Webinar yang berlangsung selama tiga jam ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan pemerhati sejarah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. STAIN SAR Kepri terus mendorong dosen dan sivitas akademika untuk aktif dalam forum ilmiah lintas negara sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik dan kontribusi terhadap pelestarian warisan budaya bangsa. (LF/Gby)