السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kepala Unit Studi Melayu STAIN Kepri Tekankan Nasionalisme lewat Pendidikan Karakter dan Budaya di Era Digital pada Talkshow Bela Negara

  • 19 Juni 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 228
Berita Utama

Tanjungpinang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Kepala Unit Studi Melayu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Romi Aqmal, M.Si., menjadi salah satu narasumber dalam acara Talk Show “Membangun Karakter Bangsa dalam Era Digital” yang diselenggarakan dalam rangka kegiatan bela negara. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 19 Juni 2025 bertempat di CK Hotel & Convention Tanjungpinang, dan turut menghadirkan dua narasumber lainnya: Kolonel Pnb. Rony Widodo, S.T., M.M., M.Han. (Komandan Pangkalan TNI AU Raja Haji Fisabilillah) dan Teguh Susanto, S.T. (Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang).

Dalam paparannya, Romi Aqmal menekankan pentingnya nasionalisme yang tumbuh dari internalisasi nilai-nilai budaya lokal dan pendidikan karakter. Materi yang ia sampaikan bertajuk “Nasionalisme Melalui Pendidikan Karakter dan Internalisasi Nilai-Nilai Budaya di Era Digital” merupakan bentuk ajakan kepada generasi muda untuk membumikan kembali nilai-nilai luhur bangsa, terutama melalui pendekatan budaya Melayu yang kaya akan falsafah hidup.

Menurut Romi, pendidikan karakter merupakan fondasi utama keberhasilan seseorang dalam menghadapi dinamika kehidupan modern yang kompleks. Ia mengutip pendapat Daniel Goleman bahwa 80% keberhasilan ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ), dan hanya 20% oleh kecerdasan intelektual (IQ). Oleh karena itu, karakter menjadi aspek yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan, baik di lingkungan formal maupun informal.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nilai-nilai dalam Tunjuk Ajar Melayu seperti demokrasi, cinta tanah air, religiusitas, kedisiplinan, dan penghargaan terhadap prestasi menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi berkarakter kebangsaan.


“Nasionalisme tidak hanya tentang simbol, tetapi juga bagaimana kita mewujudkan semangat persatuan, kemandirian ekonomi, dan kemajuan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Romi juga menyoroti pentingnya budaya Melayu dalam membentuk etos kerja dan sikap hidup yang santun dan produktif. Ungkapan-ungkapan tradisional dalam budaya Melayu, menurutnya, mengajarkan masyarakat untuk bekerja tanpa menyiksa, berbicara dengan bijak, dan menjaga relasi sosial yang harmonis.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat karakter mahasiswa dalam menghadapi tantangan era digital, sekaligus memperkuat semangat bela negara melalui pendekatan edukatif dan kultural. Di akhir paparannya, Romi mendorong agar nilai-nilai lokal terus dikembangkan sebagai bagian integral dari pendidikan karakter bangsa, sehingga generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara moral dan sosial. (LF/Gby)