السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mahasiswa Prodi IAT STAIN Kepri Dalami Sejarah Kesultanan Riau-Lingga Melalui Studi Lapangan di Museum Batam Raja Ali Haji

  • 09 Mei 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 131
Kegiatan Mahasiswa

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Mahasiswa Semester VI Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melaksanakan kegiatan studi lapangan ke Museum Batam Raja Ali Haji pada Jumat, 9 Mei 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan mahasiswa terkait sejarah Kesultanan Riau-Lingga dan perkembangan Kota Batam sebagai bagian integral dari khazanah budaya dan intelektual Melayu.

Dalam kunjungan ini, para mahasiswa dipandu oleh tour guide museum, Raja Zainudin, yang menjelaskan berbagai koleksi dan kronologi sejarah yang tersaji di ruang-ruang pameran. Ia memaparkan bahwa gedung museum semula dibangun untuk pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional ke-XXV pada tahun 2014, dan kemudian dialihfungsikan menjadi museum setelah berakhirnya kegiatan tersebut.


Salah satu koleksi penting yang dijelaskan adalah foto peresmian Museum Batam Raja Ali Haji yang dilakukan pada Jumat, 18 Desember 2020, oleh Wali Kota Batam saat itu, Muhammad Rudi, yang ditandai dengan pembukaan tirai sketsa wajah Raja Isa bin Raja Ali atau Nong Isa.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa juga memperoleh informasi mengenai perjalanan Kesultanan Riau-Lingga, budaya masyarakat Melayu, serta perkembangan Batam dari masa ke masa. Melalui penelusuran visual dan narasi sejarah yang tersaji secara sistematis, mahasiswa dapat memahami keterkaitan antara warisan sejarah dan dinamika pembangunan daerah.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk mendorong semangat mahasiswa dalam menjelajahi museum-museum lainnya di wilayah Kepulauan Riau sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Melayu dan penguatan identitas keislaman.


“Kunjungan yang sangat menyenangkan dan memorable. Rangkaian ruangan yang ada dalam museum membuat kami berjalan dalam lorong waktu dari masa Kesultanan Riau-Lingga hingga masa sekarang. Sungguh pengalaman yang sangat berharga,” ujar Eka Febriyanti, perwakilan mahasiswa IAT menyampaikan apresiasinya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran kontekstual melalui pendekatan lapangan dapat memperdalam pemahaman sejarah sekaligus membangkitkan kebanggaan terhadap khazanah lokal. (Eka/LF/Gby)