السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Menggali Warisan Intelektual: Dosen STAIN Kepri Bahas Manuskrip Melayu dalam FGD Universitas Riau Kepulauan

  • 09 Mei 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 379
Berita Utama

Batam, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Dian Rahmawati, S.Th.I., M.A., menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Kuliah Pakar yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Riau Kepulauan. Kegiatan ini mengangkat tema "Manuskrip Sejarah Melayu sebagai Cerminan Budaya dan Identitas Bangsa", dengan fokus pada pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya lokal yang terkandung dalam naskah-naskah kuno.

Dalam pemaparannya, Dian menekankan bahwa Kepulauan Riau menyimpan khazanah budaya dan sejarah yang sangat kaya dan bernilai tinggi. Ia menyebut beberapa contoh seperti Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, masjid dan kompleks makam raja-raja di Pulau Penyengat, serta berbagai manuskrip Melayu klasik yang tersebar di wilayah tersebut.

“Manuskrip kuno merupakan warisan intelektual yang mencerminkan jati diri bangsa dan semangat keilmuan masa lalu. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikannya merupakan langkah penting yang tidak bisa ditunda,” ujarnya pada Jum'at, (9/5/2025).


Salah satu bentuk kekayaan literasi sejarah tersebut, lanjut Dian, adalah tujuh manuskrip Al-Qur’an kuno yang berada di Pulau Penyengat. Salah satu di antaranya dapat disaksikan langsung oleh masyarakat di Masjid Sultan Riau Penyengat, yang saat ini disimpan dalam kotak kaca sebagai upaya perlindungan dan pelestarian.

Dian juga mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk aktif memperdalam pengetahuan tentang budaya dan sejarah Melayu melalui literasi manuskrip. 

“Bangsa yang besar tidak akan pernah melupakan sejarahnya. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan tumbuh minat dan semangat baru di kalangan mahasiswa untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal melalui kajian sejarah dan filologi,” tambahnya.

Kegiatan FGD dan Kuliah Pakar ini menjadi bagian dari upaya akademik dalam memperkuat identitas budaya nasional, sekaligus menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi penerus bangsa melalui pendekatan ilmiah dan kontekstual. (DR/LF/Gby)