السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Generasi Baru Indonesia (GenBI) Komisariat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau sukses menyelenggarakan kegiatan “Membatik Bersama GenBI STAIN Kepri” dengan tema Melestarikan Budaya, Menginspirasi Generasi. Acara ini berlangsung pada Selasa, 11 Februari 2025, di Auditorium Razali Jaya, Kampus STAIN Kepri.
Kegiatan
ini menghadirkan Sadam, S.I.P., lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Maritim
Raja Ali Haji (UMRAH), sebagai narasumber utama. Sadam memperkenalkan inovasi
ekonomi kreatif yang berbasis lingkungan, yaitu Batik Mangrove Dompak.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Rumah Rendah Karbon Dompak yang
mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan perempuan pesisir.
Dalam pemaparannya, Sadam menjelaskan bahwa Batik Mangrove Dompak menggunakan pewarna alami yang berasal dari propagul mangrove di Pulau Dompak, Kepulauan Riau. Program ini juga merupakan bagian dari pengelolaan ekosistem karbon biru yang dijalankan oleh Carbonethics Pte. Ltd., yang mencakup rehabilitasi hutan mangrove, pengelolaan sampah pesisir, hingga produksi turunan mangrove yang memiliki nilai ekonomi.


Para
peserta, yang terdiri dari anggota GenBI STAIN Kepri dan GenBI Universitas
Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), mendapatkan kesempatan untuk mempelajari proses
pembuatan batik menggunakan bahan alami seperti buah mangrove, daun ketapang,
kulit manggis, dan kunyit sebagai pewarna. Proses ini dilakukan dengan metode
tradisional, yakni batik tulis dan batik cap, menggunakan alat sederhana
seperti canting, cap logam, lilin, dan meja cap.
Motif
batik yang dihasilkan terinspirasi dari kearifan lokal masyarakat pesisir
Melayu, seperti permainan tradisional, buah mangrove berembang (Sonneratia
sp.), hingga motif tudung saji berembang yang memadukan unsur flora khas
pesisir. Setiap motif memiliki filosofi yang mencerminkan identitas budaya
setempat.
Selain
melestarikan budaya, Batik Mangrove Dompak juga berperan sebagai wadah
pemberdayaan perempuan pesisir. Sebagian besar pengrajin batik adalah perempuan
yang dilibatkan aktif dalam proses produksi sebagai upaya meningkatkan
kapasitas ekonomi keluarga dan mendorong kemandirian finansial.
Sadam
berharap bahwa Batik Mangrove Dompak dapat menjadi contoh nyata
bagaimana seni, budaya, dan pelestarian lingkungan dapat bersinergi untuk
menciptakan dampak positif secara sosial, ekonomi, dan ekologis.
“Batik
ini bukan hanya tentang kain bermotif indah, tetapi juga tentang cerita,
perjuangan, dan semangat untuk menjaga warisan budaya sekaligus ekosistem
mangrove yang menjadi penyangga kehidupan pesisir,” ujarnya.
Pembina
GenBI STAIN Kepri M. Azmi, M.E mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi
inspirasi bagi anggota GenBI untuk terus mengembangkan kreativitas yang
berdampak positif bagi masyarakat.
“Melalui
kegiatan ini, kami belajar bagaimana batik tidak hanya sebagai warisan budaya,
tetapi juga sebagai media pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Semoga semangat ini terus tumbuh di kalangan generasi muda,” tutupnya.
Kegiatan
ini diharapkan mampu menginspirasi lebih banyak komunitas untuk mengembangkan
ekonomi kreatif berbasis lingkungan, sebagai bagian dari upaya mewujudkan
pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (LF/Gby)
Mahasiswi PAI STAIN SAR Kepri Raih Juara II Hifdzil 10 Juz pada MTQH Tingkat Kota Tanjungpinang 2026
Workshop Multimedia PBA STAIN SAR Kepri Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Digital
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN