السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Menggali Potensi Lokal, GenBI STAIN Kepri Angkat Batik Mangrove Dompak sebagai Inovasi Ekonomi Berbasis Lingkungan

  • 11 Februari 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 523
Kegiatan Mahasiswa

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Generasi Baru Indonesia (GenBI) Komisariat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau sukses menyelenggarakan kegiatan “Membatik Bersama GenBI STAIN Kepri” dengan tema Melestarikan Budaya, Menginspirasi Generasi. Acara ini berlangsung pada Selasa, 11 Februari 2025, di Auditorium Razali Jaya, Kampus STAIN Kepri.

Kegiatan ini menghadirkan Sadam, S.I.P., lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), sebagai narasumber utama. Sadam memperkenalkan inovasi ekonomi kreatif yang berbasis lingkungan, yaitu Batik Mangrove Dompak. Inisiatif ini merupakan bagian dari Rumah Rendah Karbon Dompak yang mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan perempuan pesisir.

Dalam pemaparannya, Sadam menjelaskan bahwa Batik Mangrove Dompak menggunakan pewarna alami yang berasal dari propagul mangrove di Pulau Dompak, Kepulauan Riau. Program ini juga merupakan bagian dari pengelolaan ekosistem karbon biru yang dijalankan oleh Carbonethics Pte. Ltd., yang mencakup rehabilitasi hutan mangrove, pengelolaan sampah pesisir, hingga produksi turunan mangrove yang memiliki nilai ekonomi.


Para peserta, yang terdiri dari anggota GenBI STAIN Kepri dan GenBI Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), mendapatkan kesempatan untuk mempelajari proses pembuatan batik menggunakan bahan alami seperti buah mangrove, daun ketapang, kulit manggis, dan kunyit sebagai pewarna. Proses ini dilakukan dengan metode tradisional, yakni batik tulis dan batik cap, menggunakan alat sederhana seperti canting, cap logam, lilin, dan meja cap.

Motif batik yang dihasilkan terinspirasi dari kearifan lokal masyarakat pesisir Melayu, seperti permainan tradisional, buah mangrove berembang (Sonneratia sp.), hingga motif tudung saji berembang yang memadukan unsur flora khas pesisir. Setiap motif memiliki filosofi yang mencerminkan identitas budaya setempat.

Selain melestarikan budaya, Batik Mangrove Dompak juga berperan sebagai wadah pemberdayaan perempuan pesisir. Sebagian besar pengrajin batik adalah perempuan yang dilibatkan aktif dalam proses produksi sebagai upaya meningkatkan kapasitas ekonomi keluarga dan mendorong kemandirian finansial.

Sadam berharap bahwa Batik Mangrove Dompak dapat menjadi contoh nyata bagaimana seni, budaya, dan pelestarian lingkungan dapat bersinergi untuk menciptakan dampak positif secara sosial, ekonomi, dan ekologis.

“Batik ini bukan hanya tentang kain bermotif indah, tetapi juga tentang cerita, perjuangan, dan semangat untuk menjaga warisan budaya sekaligus ekosistem mangrove yang menjadi penyangga kehidupan pesisir,” ujarnya.

Pembina GenBI STAIN Kepri M. Azmi, M.E mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi inspirasi bagi anggota GenBI untuk terus mengembangkan kreativitas yang berdampak positif bagi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami belajar bagaimana batik tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Semoga semangat ini terus tumbuh di kalangan generasi muda,” tutupnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu menginspirasi lebih banyak komunitas untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis lingkungan, sebagai bagian dari upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (LF/Gby)