السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melalui Unit Studi Melayu menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Literasi Kemelayuan Nusantara pada Selasa, 10 Desember 2024, bertempat di Ruang Multimedia Perpustakaan Gedung SBSN Laboratorium Kompetensi Keagamaan Terpadu. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua STAIN Kepri, Dr. Muhammad Faisal, M.Ag., Wakil Ketua 2, Dr. Drs. Al Mahfuz, M.Si, Ketua Unit Studi Melayu STAIN Kepri, Romi Aqmal, M.Si., serta peserta dari kalangan mahasiswa STAIN Kepri.
Dalam sambutannya, Dr. Muhammad Faisal, M.Ag., mengungkapkan pentingnya pemahaman yang mendalam tentang sejarah dan budaya Melayu dalam konteks kekinian untuk memperkuat identitas budaya Nusantara. Beliau menekankan bahwa FGD ini merupakan salah satu langkah untuk menggali kembali literasi kemelayuan yang sangat berpengaruh dalam peradaban maritim Asia Tenggara.


FGD
ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Anang Haris Himawan, S.Ag., M.Pd.,
peneliti dari Rumah Sejarah Indonesia, dan Jumhari, S.S., M.Hum., Kepala Balai
Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV, Riau & Kepulauan Riau. Anang Haris
Himawan membahas Konektivitas Jaringan Politik, Perdagangan, dan Keagamaan Jawa-Melayu
Abad XIII-XVI, dengan pendekatan geografis, antropologis,
dan historiografis. Ia menjelaskan bagaimana wilayah Jawa dan Melayu yang
berada di paparan Sunda memiliki kesamaan karakteristik wilayah dan interaksi sosial
yang kuat. Diskusi ini mengungkapkan peran penting jalur perdagangan, seperti Cinnamon Route, dalam membangun hubungan
antara Nusantara dan dunia internasional, serta bagaimana penyebaran agama
Islam mempercepat proses Islamisasi di wilayah tersebut.
Sementara
itu, Jumhari, S.S., M.Hum., memaparkan Ekosistem Pemajuan Kebudayaan Riau & Kepulauan
Riau. Ia
menjelaskan posisi strategis wilayah Riau dan Kepulauan Riau dalam konteks
perdagangan internasional yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Arab, Cina,
dan Eropa. Dalam pembahasan ini, ia juga menyoroti berbagai situs bersejarah di
Riau daratan dan Kepulauan Riau, seperti Situs Kota Lama di Indragiri Hulu,
Candi Sintong di Rokan Hilir, serta Situs Tanjung Renggung dan Bukit Kerang
Kawal Darat di Bintan. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan dan pengembangan
Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dan Cagar Budaya (CB) untuk edukasi,
pembangunan karakter bangsa, serta potensi wisata sejarah dan budaya yang dapat
meningkatkan perekonomian kreatif lokal.
Diskusi
ini bertujuan untuk memperkaya wawasan peserta tentang peran penting Melayu
dalam sejarah maritim dunia, serta untuk mendorong upaya pelestarian budaya dan
peningkatan pemahaman sejarah di kalangan generasi muda. Harapannya, FGD ini
dapat memperkuat literasi kemelayuan dan menjadi langkah strategis dalam
menjaga warisan budaya Melayu di era modern. (LF/Gby)
Mahasiswi PAI STAIN SAR Kepri Raih Juara II Hifdzil 10 Juz pada MTQH Tingkat Kota Tanjungpinang 2026
Workshop Multimedia PBA STAIN SAR Kepri Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Digital
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN