السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

FGD Literasi Kemelayuan Nusantara di STAIN Kepri: Menelisik Peran Politik, Perdagangan, dan Keagamaan antara Jawa dan Melayu

  • 10 Desember 2024
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 716
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan IlmuSekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melalui Unit Studi Melayu menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Literasi Kemelayuan Nusantara pada Selasa, 10 Desember 2024, bertempat di Ruang Multimedia Perpustakaan Gedung SBSN Laboratorium Kompetensi Keagamaan Terpadu. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua STAIN Kepri, Dr. Muhammad Faisal, M.Ag., Wakil Ketua 2, Dr. Drs. Al Mahfuz, M.Si, Ketua Unit Studi Melayu STAIN Kepri, Romi Aqmal, M.Si., serta peserta dari kalangan mahasiswa STAIN Kepri.

Dalam sambutannya, Dr. Muhammad Faisal, M.Ag., mengungkapkan pentingnya pemahaman yang mendalam tentang sejarah dan budaya Melayu dalam konteks kekinian untuk memperkuat identitas budaya Nusantara. Beliau menekankan bahwa FGD ini merupakan salah satu langkah untuk menggali kembali literasi kemelayuan yang sangat berpengaruh dalam peradaban maritim Asia Tenggara.


FGD ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Anang Haris Himawan, S.Ag., M.Pd., peneliti dari Rumah Sejarah Indonesia, dan Jumhari, S.S., M.Hum., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV, Riau & Kepulauan Riau. Anang Haris Himawan membahas Konektivitas Jaringan Politik, Perdagangan, dan Keagamaan Jawa-Melayu Abad XIII-XVI, dengan pendekatan geografis, antropologis, dan historiografis. Ia menjelaskan bagaimana wilayah Jawa dan Melayu yang berada di paparan Sunda memiliki kesamaan karakteristik wilayah dan interaksi sosial yang kuat. Diskusi ini mengungkapkan peran penting jalur perdagangan, seperti Cinnamon Route, dalam membangun hubungan antara Nusantara dan dunia internasional, serta bagaimana penyebaran agama Islam mempercepat proses Islamisasi di wilayah tersebut.

Sementara itu, Jumhari, S.S., M.Hum., memaparkan Ekosistem Pemajuan Kebudayaan Riau & Kepulauan Riau. Ia menjelaskan posisi strategis wilayah Riau dan Kepulauan Riau dalam konteks perdagangan internasional yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Arab, Cina, dan Eropa. Dalam pembahasan ini, ia juga menyoroti berbagai situs bersejarah di Riau daratan dan Kepulauan Riau, seperti Situs Kota Lama di Indragiri Hulu, Candi Sintong di Rokan Hilir, serta Situs Tanjung Renggung dan Bukit Kerang Kawal Darat di Bintan. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan dan pengembangan Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dan Cagar Budaya (CB) untuk edukasi, pembangunan karakter bangsa, serta potensi wisata sejarah dan budaya yang dapat meningkatkan perekonomian kreatif lokal.

Diskusi ini bertujuan untuk memperkaya wawasan peserta tentang peran penting Melayu dalam sejarah maritim dunia, serta untuk mendorong upaya pelestarian budaya dan peningkatan pemahaman sejarah di kalangan generasi muda. Harapannya, FGD ini dapat memperkuat literasi kemelayuan dan menjadi langkah strategis dalam menjaga warisan budaya Melayu di era modern. (LF/Gby)