السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Sulawesi Selatan - Tiga orang dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau (STAIN SAR Kepri) turut menjadi panelis dalam International Conference on Islamic Studies, Education and Civilization (ICONIS) yang digelar oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, Sulawesi Selatan, pada Rabu (14/12/2022). Mereka adalah Aris Bintania, Abd. Rahman dan Zulfah.
Dalam kesempatan tersebut, Aris Bintania, memaparkan makalah berjudul “Sistem Peradilan dalam Khazanah Peradilan Islam di Dunia Melayu: Telaah atas Kitab Tsamarah al-Muhimmah karya Raja Ali Haji”. Aris menerangkan, sistem peradilan di kerajaan Riau-Lingga ini ada dua, yakni mahkamah untuk warga melayu dan pengadilan untuk warga Eropa dan Timur. Ada dua peradilan ini karena kerajaan Riau Lingga menjadi daerah koloni Hindia Belanda.
“Dalam kitab ini, dibahas tentang perangkat pejabat di mahkamah, adab dan etika pejabatnya, serta hukum beracaranya. Di dalamnya juga terdapat persyaratan pengangkatan hakim serta etika khusus,” ujar dia. Ia menerangkan bahwa etika kehakiman juga masih sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Sementara Abd. Rahman memaparkan makalah dengan judul “Islam dalam Realitas Politik Muslim di Indonesia Pasca Reformasi.” Sedangkan Zulfah mempresentasi makalah dengan judul “Kearifan Lokal “Wayang Golek” sebagai Media Pembelajaraan Pendidikan Agama Islam di Era Abad 21.”
Silaturahmi Penguatan Institusi
Pada kesempatan tersebut, dosen dari STAIN SAR Kepri melakukan silaturahmi dengan pimpinan IAIN Parepare. Dalam hal ini, STAIN SAR Kepri dipimpin oleh Wakil Ketua I, Aris Bintania, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Abd. Rahman dan Sekretaris P3M Zulfah. Sedangkan dari IAIN Parepare ditemui langsung oleh Rektor IAIN Parepare Dr. Hannani, yang didampingi oleh wakil rector dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak berbagi pengalaman dalam pengembangan kampus, termasuk dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan ilmiah serta penguatan program studi. “Kami dulu juga berbenah secara perlahan. Setelah alih status menjadi IAIN, mulai langsung berdampak signifikan, termasuk pembangunan dan jumlah mahasiswa,” kata Hannani.
“STAIN Kepri baru alih status menjadi negari pada 2018. Sekarang sudah memiliki dua gedung dan jumlah mahasiswa juga telah 1500-an,” kata Aris. Ia menerangkan, bahwa saat ini di STAIN Kepri banyak dosen muda.
Kedua belah pihak juga berencana akan melakukan kerjasama lebih lanjut sehingga nantinya, masing-masing program studi ataupun unit lain di masing-masing kampus bisa saling terlibat dalam kegiatan bersama. Misalnya, di bidang pengabdian mahasiswa atau bahkan pengabdian ke luar negeri yang bisa jadi di koordinir oleh STAIN Kepri.
“Saya yakin STAIN Kepri akan cepat berkembang karena menang secara geografis. Letaknya strategis dengan Malaysia dan Singapura sehingga bisa memperbanyak kerja sama internasional. Insya Allah STAIN Kepri dan IAIN Pareparen sama-sama sukses,” ujar Hannani lagi. [abd]

Mahasiswi PAI STAIN SAR Kepri Raih Juara II Hifdzil 10 Juz pada MTQH Tingkat Kota Tanjungpinang 2026
Workshop Multimedia PBA STAIN SAR Kepri Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Digital
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN